Sebelum berangkat dari hotel, kami makan pagi dulu yang memang sudah disediakan dari hotel nya. Kebanyakan hotel di Interlaken Swiss ini harganya sudah termasuk makan pagi. Setelah mengganjal perut, kami pun siap berangkat naik ke salah satu puncak gunung Swiss Alps, Jungfraujoch. Kami sudah siap perang tempur sama hawa dingin, memakai jaket tebal, sarung tangan tebal, topi kupluk, dan perlengkapan musim dingin lainnya. Soalnya denger-denger nih, katanya di atas Jungfraujoch itu suhu rata-rata nya -10 derajat Celcius. Saya pun tidak lupa membawa tiket kereta PP Jungfraujoch yang sudah di beli di hari sebelumnya, dan “Jungfrau Railway Passport” yang dikasih saat membeli tiket untuk di cap di Jungfraujoch nya.

Makan pagi di Hotel

Sekitar pk07.30 kami jalan kaki dari hotel ke stasiun Interlaken West. Perjalanan ke Jungfraujoch pun dimulai dari sini. Untuk ke Jungfraujoch itu ada 2 rute: pergi via Grindelwald, pulang via Lauterbrunnen; atau pergi via Lauterbrunnen, pulang via Grindelwald; bisa juga sih PP rute nya sama, tapi biasanya orang milih beda rute biar bisa menikmati desa-desa yang berbeda. Nah kalau saya milih yang pergi via Grindelwald, pulang via Lauterbrunnen, biar bisa jalan-jalan di desa Lauterbrunnen nya.

Tepat pk08.00 kereta kami tiba di Interlaken West. Berikut rute kami dari Interlaken West ke Jungfraujoch, dengan total durasi sekitar 2 jam:

1. Interlaken West – Interlaken OST
2. Interlaken OST – Grindelwald
3. Grindelwald – Kleine Scheidegg
4. Kleine Scheidegg – Jungfraujoch

Grindelwald station
Pemandangan dari kereta Grindelwald – Kleine Scheidegg

Seharusnya sih memang 2 jam untuk sampai di Jungfraujoch dari Interlaken West, tapi saat di Kleine Scheidegg, kami malah ketinggalan kereta 2x karena kereta nya full terus. Jadinya makan waktu lumayan lama, ada kali setengah atau satu jam kami menunggu kereta nya. Ini karena kami tidak reserve tempat duduk dulu sebelumnya. Waktu membeli tiket kereta, kami juga ditanyain sama petugas nya, mau sekalian booking tempat duduknya atau tidak, tapi bayar lagi berapa Swiss Franc gitu per orang. Karena kami pikir pasti dapat tempat duduk, akhirnya kami menolak tawaran tersebut. Eh ternyata kenyataannya, banyak sekali turis yang sudah booking tempat duduk.

Kereta Kleine Scheidegg – Jungfraujoch

View this post on Instagram

Do you know the Highest altitude railway station in Europe is in Switzerland? Yes, it's called "Jungfrau Railway", or often called as "Jungfraubahn". It's located in Bernese Oberland area in Switzerland. . It runs from Kleine Scheidegg to the highest railway station in Europe at Jungfraujoch. The Jungfraujoch – Top of Europe station is at 3,454m (11,333 ft). . From Kleine Scheidegg at 2,061m (6,762 ft), a 7 km (4 mile) long tunnel was dug through the rock of the Eiger and Monch Alpine peaks for cogwheel trains to reach the Jungfraujoch on gradients up to 25%. . #jeanetravelstory #jeaneineurope #jungfraubahn #jungfraubahnen #jungfraurailway #jungfraujoch #kleinescheidegg #berneseoberland #switzerland #switzerlandwonderland #inlovewithswitzerland #myswitzerland #visitswitzerland #exploreswitzerland

A post shared by Jeane | Travel Blogger 🇮🇩 (@jeanerooseline) on

Saat di Kleine Scheidegg itu ada antrian khusus untuk yang sudah reserve tempat duduk. Antrian tersebut hanya sedikit, sedangkan antrian yang belum reserve tempat duduk, panjang sekali. Makanya, kami sampai ketinggalan kereta 2x. Akhirnya di kereta yang ketiga, kami semua bertujuh bisa masuk semua. Tapi tetap harus berdiri. Bayangkan, naik kereta tertinggi di Eropa dengan kemiringan yang lumayan, dan melewati 3 gunung sekaligus yaitu Eiger, Mönch, Jungfrau. Rasanya itu seperti naik roller coaster yang lagi naik ke atas, tapi ini posisi nya sedang berdiri. Ya, bisa dibayangkan sendiri ya bagaimana rasanya. Ngeri-ngeri sedap gimana gitu :))) Nah ini tips buat kamu yang mau ke Jungfraujoch: harus booking tempat duduk dulu sebelumnya.

Kereta ini melewati beberapa stasiun, seperti Stasiun Eigergletscher, Stasiun Eigerwand dan Stasiun Eismeer. Di stasiun kedua dan ketiga, kereta berhenti selama 10 menit lamanya. Selama 10 menit ini pengunjung dipersilahkan untuk turun dari kereta dan menikmati pemandangan yang disediakan di viewpoint.

Akhirnya sekitar pk11.30, kami sampai di Jungfraujoch. Perasaan excited pun langsung menyelimuti saya. Tidak sabar untuk menjelajah tiap sudut di atas gunung Swiss dengan ketinggian 3,454m ini. Tapi karena saya bersama dengan orangtua yang kondisi fisik nya tidak terlalu bagus, saya pun harus bersabar dan berjalan mengikuti ritme orangtua. Ketika saya terlalu bersemangat untuk jalan kesini dan kesana, mama saya selalu bilang “Tunggu, istirahat dulu bentar.” Ya, papa saya merasa pusing dan seperti nimbung gitu. Baru pertama kalinya dalam hidup mereka berada di ketinggian seperti itu, apalagi dengan umur nya juga yang sudah 60th keatas, wajar kalau merasa pusing.

Jungfraujoch
Jungfraujoch Station

“Tour” Jungfraujoch dimulai dari “Jungfrau Panorama” yang menampilkan 360° cinematic experience selama 4 menit. Kami sih cuma asal lewat aja, dan melanjutkan perjalanan ke “Sphinx Terrace”. Kami naik lift tercepat di Swiss yang membawa kami ke Sphinx Observatory dalam jangka waktu 27 detik saja. Disini kita bisa menikmati indahnya Aletsch Glacier. Nah saya tidak menyangka cuaca sangat cerah dan bahkan saya merasa kepanasan memakai jaket dan sarung tangan tebal. Ternyata Jungfraujoch tidak sedingin yang saya bayangkan.

Jungfrau Panorama
Sphinx Terrace
Le Familia in Switzerland 🙂
Silau men!

Setelah itu, kami pun turun lift lagi dan dihadapkan pada 2 pilihan tour, yaitu Snow Fun atau Alpine Sensation. Awalnya kami memilih Snow Fun dan ternyata itu membawa kami keluar dari ruangan. Ya, Snow Fun itu ternyata untuk main-main di salju dan permainan musim dingin seperti Zip Line, Ski & Snowboarding, dan ada juga Sledge Park. Seru sih emang, tapi orangtua tidak berani untuk keluar, karena ternyata di luar itu dingiiinnn! Akhirnya kami hanya foto-foto saja di depan pintu keluar, dan at least orangtua sudah merasakan bagaimana memegang salju dan berdiri diatas salju :)))

Jungfraujoch – Top of Europe

Lalu kami pun melanjutkan perjalanan ke Alpine Sensation. Disini kita bisa melihat bagaimana tourism di Jungfrau Region dari jaman dulu kala hingga saat ini, digambarkan dalam bentuk gambar, musik, cahaya, dan ada hawa dinginnya juga. Kita juga bisa melihat bagaimana awalnya dibangun Jungfraujoch, para pekerja terowongan Jungfraujoch yang meninggal saat bertugas, dan lain sebagainya.

Alpine Sensation
Sejarah Jungfraujoch

Setelah dari Alpine Sensation, kami melanjutkan perjalanan ke “Ice Palace”. Nah disini kita berjalan diatas es, seperti di ice skate ring gitu deh, tapi disini tidak begitu licin. Selain itu, kita bisa melihat pahatan es yang dibentuk menjadi berbagai macam hal, mirip seperti Festival Es yang ada di Harbin.

Pahatan es yang ada di Ice Palace, Jungfraujoch

Selanjutnya kami melewati toko coklat “Lindt Swiss Chocolate Heaven” dan membeli beberapa coklat Lindt disini. Memang agak mahal, tapi kapan lagi belanja di Lindt Chocolate Shop tertinggi di dunia ini? 😉

Lindt Swiss Chocolate Shops and Souvenirs

Karena orangtua juga punya riwayat penyakit, saya pun jadi khawatir dan was-was juga sebenarnya selama berada di Jungfraujoch. Kami pun tidak bisa lama-lama berada disitu. Dalam hati, saya sangat ingin masih berada di Jungfraujoch untuk menikmati pemandangan Swiss Alps yang indah itu. Tapi di sisi lain, saya juga khawatir dengan keadaan papa saya yang pusing nya tak kunjung membaik. Ditambah belum makan siang pula. Akhirnya setelah 2 jam jalan-jalan di Jungfraujoch, kami pun segera turun kembali.

Nah, ada kejadian saat kami turun kereta dari Jungfraujoch ke Kleine Scheidegg. Kami lupa menaruh tiket kereta nya dimana! Tiket kereta di Swiss itu kadang suka di cek sama petugas nya, kadang juga tidak. Untuk tiket kereta dari Jungfraujoch ini dicek, dan kebetulan banget kami juga lupa taruh dimana. Kebetulan lainnya lagi, petugas nya ini jutek banget, dia bilang kami harus bayar tiket kereta lagi begitu sampai Kleine Scheidegg, yang berarti 13jt kami hilang begitu saja dan harus membayar 13jt lagi! Karena katanya bisa saja saya berbohong, bisa saja saya hanya membeli one way ticket ke Jungfraujoch, bukannya return ticket.

Situasi di dalam kereta. Petugas yang jutek itu ada di foto tengah

Semua orang yang ada di gerbong kereta kami langsung memperhatikan kami. Kemudian, ada orang Taiwan yang berbaik hati memberikan tempat duduk untuk saya. Saya pun kembali pelan-pelan mencari tiket yang hilang tersebut. Akhirnya saya menemukan ketujuh tiket tersebut, dan disaat itulah semua orang tepuk tangan! Big thanks to that Taiwanese people 🙂

Mungkin karena saya berdiri dengan kemiringan kereta dan disertai dengan panik, jadi agak susah mencari tiketnya. Petugas yang jutek tadi sudah tidak tahu ada dimana. Tapi ada petugas lain yang sudah menunggu kami saat turun dari kereta, sepertinya petugas yang jutek itu kasih tau ke petugas lainnya untuk menagih tiket kereta kami. Untungnya karena sudah ketemu, kami pun bisa dengan tenang turun dari kereta. Karena kejadian ini, kami menyebut tiket ke Jungfraujoch ialah “Tickets of Happiness”, LOL 😀

Tickets of Happiness 🙂

Waktu sudah menunjukkan sekitar pk14.00 saat kami sampai di Kleine Scheidegg. Kami pun segera mencari restoran terdekat untuk makan siang. Papa saya pun walau masih berasa pusing, tapi sudah mendingan. Setelah puas makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Lauterbrunnen.

Makan siang di Kleine Scheidegg
Pemandangan dari Kleine Scheidegg – Lauterbrunnen
How beautiful the glacier is! 😀

Lauterbrunnen adalah salah satu desa terindah di Swiss dengan ketinggian 802 m. Ada banyak air terjun di desa ini, namun yang paling terkenalnya ialah Staubbach dan Trummelbach Falls. Awalnya saat mencari penginapan di Swiss, saya mencari di sekitar Lauterbrunnen ini. Tapi karena orangtua takut dingin karena berada di lembah pegunungan, akhirnya kami menginap di Interlaken saja.

Lauterbrunnen Valley
Staubbach Fall

Di Lauterbrunnen ini kami hanya berjalan santai menikmati desa sampai ke depan Staubach Falls. Setelah foto di depan Staubach Falls, perjalanan dilanjutkan ke desa indah berikutnya, yaitu Mürren. Ini adalah desa yang katanya sih paling indah, lebih indah dari Lauterbrunnen, karena jaraknya juga yang lebih dekat ke Jungfraujoch. Jadi dari Lauterbrunnen, kami naik cable car, lalu naik kereta kecil lagi menuju Mürren. Menurut Rick Steves juga, kalau mau menginap di daerah Bernese Oberland, lebih baik menginap di Mürren ini. Perjalanan menuju Mürren memang jauh karena ada di atas gunung, tapi pemandangannya memang mantap.

Pemandangan dari Lauterbrunnen – Mürren
Di dalam cable car menuju Mürren

Mürren merupakan desa dengan ketinggian 1,638 m yang bebas dari kendaraan dan polusi. Kalau di Lauterbrunnen, kita masih bisa menjumpai mobil. Kalau di Mürren ini tidak diperbolehkan ada kendaraan, jadi udaranya juga sangat bersih disini. Waktu yang sudah menunjukkan pk17.00 ketika kami sampai di Mürren. Begitu keluar dari stasiun Mürren, saya langsung jatuh cinta dengan desa ini. Indahnya luar biasaaa! Karena sudah sore, kami hanya menghabiskan waktu 30 menit di depan pintu keluar stasiun. Orangtua sudah lelah juga untuk jalan-jalan di sekitar desa. Kalau saya jalan sendirian juga, takutnya malah jadi berpencar, akhirnya saya juga hanya menikmati desa ini dari depan pintu keluar stasiun saja. Dari sini juga, pemandangannya luar biasa indah sih.

Karena sudah pk17.30, kami pun segera meluncur turun lagi ke Lauterbrunnen. Sedih harus meninggalkan Mürren sejujurnya 🙁 Ingin sekali saya berlama-lama di desa indah ini, menikmati 3 pegunungan Alpen sekaligus disertai dengan warna-warni daun musim gugur.

Dari Lauterbrunnen, kami naik kereta kembali ke Interlaken OST. Waktu menunjukkan sekitar pk19.00 ketika kami sampai di Interlaken OST. Kemudian kami berjalan kaki menuju hotel di daerah Interlaken West, sambil mencari toko oleh-oleh dan restoran. Ternyata kalau sudah malam begini, suasana di Interlaken sepi dan gelap. Banyak toko dan restoran yang sudah tutup.

Saat itu kami mencari restoran yang ada cheese fondue nya, karena katanya Swiss itu terkenal dengan cheese fondue. Setelah cari di internet, kami menemukan beberapa restoran yang masih buka, salah satunya Schuh. Restoran ini terlihat mahal tapi kami pikir ini malam terakhir di Swiss kan, jadi mumpung masih di Swiss, ya harus cobain cheese fondue nya. Eh ternyata cheese fondue nya disini B aja. Makanan lain yang kami pesan pun sebenarnya B aja.

Setelah itu kami melihat ada toko jam tangan Swiss “Swatch” yang masih buka, akhirnya kami pun kesana dan membeli 1 jam tangan untuk sepupu saya. Kebetulan waktu itu ada promo, Buy 1 Get 1 Free. Nah get 1 free nya diambil secara acak, kebetulan itu jam tangan untuk cewe. Akhirnya saya yang pakai deh, lumayan dapat jam tangan gratis 😀

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pk22.00, kami pun langsung pulang ke hotel untuk istirahat. Malam itu adalah malam terakhir kami di Swiss. Keesokan harinya jam 7 pagi kami sudah keluar dari hotel.

Swiss memang merupakan negara terindah yang pernah saya kunjungi, namun juga negara termahal. Jalan-jalan di Swiss itu rasanya seperti jalan-jalan di desa nya negeri dongeng. Dan saya tidak akan bisa melupakan perjalanan epic saya bersama keluarga ini ke Swiss, terutama perjalanan menuju Jungfraujoch 😀

View this post on Instagram

Rasanya seperti sebuah mimpi untuk bisa jalan-jalan ke Swiss bersama kedua orangtua. . Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya bisa jalan-jalan ke Swiss bersama orangtua. Mengingat usia mereka yang sudah tidak muda lagi, rasanya mustahil untuk bisa pergi kesana. . Nah ketika kesempatan itu datang, saya jadi langsung bersemangat sekali😆 Saya pikir ini kesempatan bagus, mumpung mereka masih bisa jalan juga. Saya ingin mengajak orangtua melihat indahnya dunia, melihat salju untuk pertama kali nya, dan melihat pegunungan Alpen yang saljunya itu abadi❄️😍 Untungnya dokter juga kooperatif, mengijinkan orangtua saya naik ke atas pegunungan Alpen. . Oleh karena itulah, saya dan keluarga jadi #BeraniJelajahi Swiss🇨🇭🇨🇭🇨🇭 Berani untuk naik ke atas salah satu pegunungan Alpen, Jungfraujoch (3,466m), yang katanya sih disini suhu nya sering sampai minus . Orangtua saya tadinya takut kedinginan, eh sampe sana cuacanya bagus sekali! Terang benderang gitu☀️ Bahkan saya merasa kepanasan memakai jaket, dan kami pun harus memakai Sunglasses karena terlalu silau😎 . Anyway, yuk ikutan juga Photo Competition dari @hisgoindonesia. Hadiahnya 2 tiket pesawat ke Thailand, 1 tiket masuk Universal Studios Singapore, dan goodies menarik dari hisgo Indonesia. @s.choadinata @mellzhang @nina.san28 #jeanetravelstory #jeaneineurope #jungfraujoch #switzerland

A post shared by Jeane | Travel Blogger 🇮🇩 (@jeanerooseline) on

4 COMMENTS

  1. dear Jeane,
    travel storynya sangat bagus sekali.
    saya berencana ke eropa 20/12/19 sd 3/1/20 ; amsterdam(4D), paris(4D) dan swiss(5D).
    sangat mencerahkan utk next traveling keluarga kami.

    regards
    yudo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here