Di Eropa ada beberapa penerbangan low-cost yang bisa dijadikan pilihan, namun yang paling terkenal ialah EasyJetRyanAir, dan Vueling. EasyJet berpusat di London, UK. Sementara RyanAir berpusat di Dublin, Ireland. Dan Vueling berpusat di Barcelona, Spain.

EasyJet

Saat saya merancang itinerary, dari satu negara ke negara lainnya saya memilih untuk naik pesawat daripada kereta cepat. Pertimbangannya ialah naik pesawat itu tentu lebih cepat dari naik kereta, dengan harga yang kurang lebih mirip (kalau naik low cost airlines). Awalnya rencana penerbangan saya seperti ini: Bordeaux – Amsterdam, Amsterdam – Zurich. Dari jauh-jauh hari saya pun cari tiket pesawat nya, dan cuma EasyJet yang ada penerbangan direct dengan rute yang saya inginkan dan harga nya yang terjangkau. Tapi saya tidak berani beli tiket nya dulu, karena takut visa ditolak. Rencananya setelah visa keluar, saya baru beli tiket.

Namanya juga low cost airlines, semakin dekat hari H, harganya akan semakin mahal. Setelah visa telah keluar, saya pun kepanikan sendiri karena harga tiket melonjak untuk penerbangan Bordeaux-Amsterdam dan Amsterdam-Zurich. Alhasil, saya pun segera mencari solusinya. Saya otak-atik saja kota nya, pilih kota terdekat dari Bordeaux, Amsterdam, dan Zurich. Saya juga otak-atik tanggal penerbangannya, karena harganya pasti beda-beda tiap tanggal. Selama berkutat beberapa hari, akhirnya ketemu juga rute penerbangan dengan harga yang masih terbilang oke.

Jadi, rute penerbangan saya di Eropa ialah Toulouse-Amsterdam dan Amsterdam-Basel, dimana kesemuanya itu memakai pesawat EasyJet. Seperti low-cost airlines pada umumnya, ada banyak add-ons nya termasuk bagasi. Satu hal menarik yang saya temukan saat booking tiket pesawat EasyJet ini ialah beda jumlah penumpang, beda juga harganya.  Selain itu, uniknya lagi untuk cabin bag hanya ada ketentuan size, yaitu Max. 56x45x25cm per passenger. Cabin bag tidak ada ketentuannya untuk weight atau berat nya. Jadi berat nya bebas, karena biasanya kan berat cabin bag dibatasi 7kg.

Untuk mendapat Boarding Pass, kita bisa online check-in 1 bulan sebelum keberangkatan. Jadi 1 bulan sebelum keberangkatan saya langsung online check-in agar mendapat kursi yang agak depan atau tengah.

Touluse – Amsterdam

Waktu itu saya booking penerbangan Toulouse-Amsterdam tanggal 1 Oktober 2017 untuk 7 orang, dan harga totalnya ialah 476.62 Euro (atau sekitar Rp7.436.395) sudah termasuk 6 bagasi dengan total weight nya 120kg. Jam penerbangan nya dari Toulouse ialah 10:55am, dan saat itu saya sampai di Toulouse Airport jam 10:30am. Butuh waktu sekitar 25 menit lagi sebelum pesawat berangkat. Saat itu kami semua panik, takut ketinggalan pesawat. Ditambah lagi dengan kepanikan staff EasyJet counter baggage drop yang kurang lebih berkata seperti ini, “You have to go now to the boarding gate. Don’t be like this for the next time. You’re almost late! Run run run!” Perkataan dia memang benar, tapi itulah kebudayaan orang Perancis yang nada bicaranya agak kurang mengenakan dengan gaya yang suka cepat dan buru-buru. Untungnya saat menaruh bagasi, tidak ada masalah dengan bagasi kami. Jadi setelah menaruh bagasi, saya bersama teman Belanda segera bergegas menuju boarding gate nya. Sementara orangtua dan tante saya ditemani oleh sepupu di belakang, karena namanya juga orangtua tidak bisa jalan cepat.

Di tengah situasi seperti ini, eh ternyata ada saja masalahnya. Tante saya membawa sambal cair di tas nya, sehingga sambal tersebut yang dibawa dari Indonesia harus ditahan di Toulouse Airport. Saya juga lupa mengingatkan bahwa di dalam tas yang dibawa masuk ke pesawat (cabin bag) tidak boleh ada benda cair (lebih dari 100ml) ataupun benda tajam. Kejadian ini memperlama waktu sampai ke boarding gate nya. Dan ketika saya dan teman Belanda sudah sampai di boarding gate, kami langsung bilang ke petugas EasyJet di boarding gate nya untuk menunggu rombongan kami. Saat itu sebenarnya waktu sudah menunjukkan sekitar pk10.55. Harusnya pesawat sudah jalan, tapi untungnya waktu itu entah kami memang ditungguin sama pesawat nya atau pesawatnya sengaja telat berangkatnya, yang pasti kami masih keburu masuk ke dalam pesawat.

Pertama kali masuk ke dalam pesawat EasyJet, kesan pertamanya ialah ini pesawat nya kecil banget. Ketika take-off saya berasa deg-degan juga sih karena seperti ada bunyi yang kurang mengenakan, pas terbangnya juga sama. Maklum namanya juga low-cost airlines. Tapi kami selamat kok sampai di Amsterdam nya 🙂

Amsterdam – Basel

While waiting for the flight in Amsterdam Schiphol Airport

Penerbangan kami dari Amsterdam – Basel tanggal 3 Oktober 2017, 07:25am – 08:45am. Harga untuk 7 orang ialah 263.94 Euro (atau sekitar Rp4.203.387) sudah termasuk 6 bagasi dengan total berat 120kg.

Awalnya sih pengen penerbangan agak siang, tapi apa daya saat itu hanya tersisa tiket penerbangan pagi. Nah dari hotel di Amsterdam yaitu Golden Tulip Amsterdam West, kami naik mini van untuk 7 orang yang sudah di booking di hari sebelumnya di resepsionis hotel. Karena tidak mau mengulang kejadian yang sama seperti sebelumnya, alias tiba di Airport 25 menit sebelum keberangkatan, waktu itu sekitar jam 5 pagi, kami sudah berangkat dari hotel menuju Amsterdam Airport Schiphol. Kebetulan sekali pagi itu kami diantar kepergiannya dengan hujan. Jadi dari lobby hotel, kami agak kehujanan dikit karena taxinya ada di seberang jalan. Apalagi kami juga sambil membawa koper dan tas jinjing oleh-oleh dari Belanda, pagi itu kami pun cukup rempong. Untung sih kami sudah memesan taxi di lobby hotel, coba bayangkan kalau kami naik kendaraan umum (Naik Tram dulu 1x ke stasiun Sloterdjik, lalu naik kereta langsung dari Sloterdjik ke Schiphol), pasti lebih rempong lagi. Apalagi kami rombongan bertujuh yang terdiri dari 3 orang tua.

Perjalanan memakan waktu sekitar 15-30 menit. Setelah sampai di Amsterdam Airport Schiphol, kami segera menuju counter nya EasyJet untuk baggage drop. Nah, disini kami sempat dicurigai oleh petugas nya karena dari 6 koper ada 3 atau 4 koper yang lebih dari 20kg. Lalu saya pakai alasan, kan yang penting total bagasi nya 120kg. Kemudian si petugas nya mengancam saya juga, pokoknya kalau total bagasi nya lebih dari 120kg, mereka akan kasih tagihannya ke kartu kredit saya. Saya pun bilang oke-oke aja dengan lantangnya. Saya tau sih sebenernya kalau di total-total, memang pasti lebih dari 120kg, tapi untungnya saya lolos-lolos saja tuh. Sampai sekarang tidak ada tagihan lagi di kartu kredit saya 😛

Kejadian selanjutnya ialah saat mau masuk ke pesawat, tas kabin kami diperiksa satu-satu. Ternyata (disini saya baru tau) cabin bag itu harus 1 doang, tidak boleh ada 2, dengan max size 56x45x25cm per passenger, tidak ada batasan berat. Awalnya saya pikir boleh ada 2, soalnya kalau Airasia kan bebas ya. Nah, kalau di EasyJet ini hanya boleh membawa 1 cabin bag. Waktu itu saya membawa 1 tas dan 1 tas jinjing yang isinya banyak oleh-oleh dari Belanda. Akhirnya saya pun harus memasukkan barang-barang yang ada di tas jinjing ke dalam tas saya, bahkan karena sudah tidak muat, saya nitip barang-barang tersebut ke dalam tas keluarga saya. Begitupula dengan keluarga saya: orangtua, tante, sepupu, semuanya harus memasukkan barang-barang yang ada di tas jinjing ke dalam 1 tas saja. Setelah tas menjadi cuma 1 per orang, tas tersebut masih harus diperiksa ukuran nya, kalau lebih dari 56x45x25cm, tas itu tidak diijinkan masuk ke dalam pesawat. Jadi ada semacam kotaknya gitu untuk mengukur ukuran tersebut, kalau tas nya bisa dimasukkan ke dalam kotak, berarti aman. Saya sih tidak menyangka kalau pesawat ini ternyata sangat strict juga terhadap peraturan cabin bag.

Setelah itu, kami masuk ke pesawat dan terbang ke Basel, Switzerland tepat waktu. Kami pun sampai di Basel pk08.45am. Pengalaman naik EasyJet ini overall kurang memuaskan. Tapi ya lumayan untuk menghemat biaya selama di Eropa. Karena waktu itu kami consider harga dan waktu, kami memutuskan untuk naik EasyJet ini. Tapi lain kali, mungkin kami akan mencoba airlines lain atau naik kereta sekalian.

5 COMMENTS

  1. Hi Jeane, thank you for this shared experience. Ada immigrasi chek ngak di airport kedatangan dan keberangkatan Toulose _amsterdam, Amsterdam -basel? Thanks. God bless.

    • Hi Siska,
      Nah kalau soal imigrasi check harusnya ada semua ya. Tapi waktu aku sampe di Amsterdam, langsung keluar gt aja tanpa lewat imigrasi. Bingung juga makanya, terus ga ngeh juga. Begitu di Zurich airport pas mau pulang ke Indo, ditanyain sama petugas imigrasinya. Kok ga ada cap di Amsterdam. Tapi karena ada visa Schengen, jadi aku bisa lolos.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here