Rock Climbing Team

Semua berawal dari ajakan salah satu teman untuk panjat tebing via ferrata di Gunung Parang Purwakarta. Saya dari dulu memang penasaran ingin panjat tebing, karena sepertinya seru. Saya pun langsung mengiyakan ajakan teman saya tersebut. Sebelumnya saya belum pernah rock climbing, tetapi saya pernah wall climbing di Plaza Festival Jakarta. Wall climbing saja waktu itu saya merasa agak berat, apalagi rock climbing yaaa (tanya saya dalam hati). Timbul perasaan ragu dalam diri saya, alhasil saya pun bertanya ke teman saya tersebut. Ia berkata bahwa rock climbing dengan memakai teknik via ferrata ini sangat aman, apalagi untuk pemula. Bahkan anak kecil usia 4 tahun saja bisa, dan yang lebih hebat nya lagi orang tua yang usia nya sudah lanjut pun mampu panjat tebing via ferrata ini. Ia pun menyarankan saya untuk menonton video youtube mengenai panjat tebing via ferrata di Gunung Parang Purwakarta, supaya saya ada gambaran akan memanjat seperti apa.

Well, saya agak shock melihat ketinggian gunung Parang tersebut. Tebing Parang ini memiliki 3 jalur panjat. Pertama puncak tower 1, memiliki ketinggian 983 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan medan panjat lebih dari 700 meter. Tower 2, hampir sama tinggi dengan tower 1. Bentuknya meruncing di bagian atas dan mirip senjata parang. Dan Tower 3, lebih landai dan terlihat tumpul dari kejauhan. Katanya sih gunung Parang ini termasuk tebing batu alam tertinggi kedua di Asia. Entah benar atau tidak, yang pasti gunung Parang ini memang sangat tinggi. Setelah melihat video Youtube tersebut, nyali saya agak mulai menciut. Tapi sudah terlanjur bayar, yasudah jalani saja~ hahaha

Hari H pun akhirnya tiba. Kami berangkat dari Jakarta menuju Purwakarta, sampai disana sekitar pk09.30. Setelah memakai alat untuk panjat tebing dan makan pagi, kami segera menuju titik 0 nya Tebing Parang Tower 3. Setelah itu, kami diberikan briefing alat dan cara memanjat via ferrata oleh instruktur nya.

Waktu memanjat dimulai sekitar pk11.00, cuaca juga sedang terik-teriknya, dan bodohnya saya lupa gak pakai sunblock! Tak apa, sudah terlanjur saya berada disitu, saya harus memanjat.

Saat mulai memanjat tebing~

Ternyata teknik via ferrata ini susah susah gampang. Tentunya badan kita dipasang oleh serangkaian alat pengaman. Kita memanjat nya dengan menaiki batu besi dimana setiap kita naik tangga itu kita harus menaiki juga alat pengaman kita. Inilah yang dimanakan teknik memanjat via ferrata.

Trek Tebing Parang

Awalnya saya baik-baik saja dalam memanjat, eh semakin keatas trek nya dibuat jadi agak sulit. Ada yang harus menyamping ke sebelah kanan, ada juga yang ke sebelah kiri. Ada pula yang 180 derajat, kebayang ga tuh beratnya? Ada suatu ketika dimana saya rasanya sudah tidak sanggup lagi manjat tebing. Capek+takut, itulah yang saya rasakan. Tangan saya sudah gemetaran, rasanya tidak sanggup untuk memanjat lagi. Padahal sebenarnya manjat tebing via ferrata ini sangat aman, hanya perlu YAKIN pada alat-alat pengaman tersebut. Teman-teman satu trip memberikan saya dorongan dan motivasi untuk bisa manjat lagi. Saya juga terus berusaha memotivasi diri sendiri. Saya pasti bisa, saya pasti bisa!! Saya pun melanjutkan memanjat..

The scenery from the above mountain

Kami sampai pada ketinggian 125 meter di atas permukaan laut sekitar pk12.00 atau pk12.30. Pemandangan yang kami lihat dari atas sana ialah Waduk Jatiluhur yang indah. Setelah puas foto-foto dan upload ke social media (Diatas sana sinyal nya kenceng banget loh), kami pun turun secara bergantian. Kami turun untuk istirahat di gua-gua kecil yang ada disana. Lalu sampai di titik kurang lebih 100 meter untuk turun tebing dengan memakai cara lowring, dimana kita para peserta ini diturunkan oleh instruktur nya dengan menggunakan tali. Kita harus berjalan mundur di atas tebing tersebut. Posisi kaki harus lurus, layaknya kita berjalan mundur seperti biasa. Saat turun pun, perasaan takut itu muncul lagi. Akhirnya saya berhasil turun dengan adanya sedikit luka di sepanjang jari-jari tangan kanan saya.

Saya merasa disinilah sifat dan karakter saya yang asli muncul. Saya sendiri tidak menyangka bahwa saya se-penakut itu. Tapi akhirnya saya mampu mengalahkan rasa takut yang ada dalam diri saya. Well, ini merupakan moment berharga dan tak terlupakan dalam hidup saya. Ada perasaan bangga setelah berhasil memanjat gunung Parang ini 😀

So, I recommend you to challenge yourself, face the fear, and always believe that you can do it. Live while we’re young!

Live while we’re young!
Beristirahat sejenak di dalam gua
Gua kecil di tebing Parang
Turun tebing

P.S: Thank you buat Canaya Tour and Travel yang sudah koordinir acara open trip rock climbing via ferrata ini. Sebagai informasi, biaya trip ini ialah Rp450.000, sudah termasuk Transportasi PP Jakarta, Snack Pagi, Sewa Alat, Instruktur&Guide, Makan Siang, dan Dokumentasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here