Belitung terbagi menjadi 2 kabupaten, yaitu Belitung Barat yang beribukota di Tanjung Pandan, dan Belitung Timur yang beribukota di Manggar. Dari Belitung Barat ke Belitung Timur itu ditempuh dalam waktu 1.5 jam.

Begitu kami sampai di airport nya Belitung, H.A.S. Hanandjoeddin International Airport, yang berlokasi di Tanjung Pandan ini, kami langsung menuju Belitung Timur. Kami dijemput oleh supir yang merangkap sebagai tour guide kami selama di Belitung. Supir itu bernama Pak Wawan. Walaupun ia bukan asli Belitung, namun ia sudah lama menjadi supir di Belitung. Selama dalam perjalanan kami ke Belitung Timur, ia terus menjelaskan kepada kami mengenai Belitung. “Di Belitung itu panas, kalian harus banyak-banyak minum air ya, kalau tidak bisa dehidrasi”, begitu kata Pak Wawan. Lalu ia juga menambahkan, “Di Belitung Timur itu lebih panas dari Tanjung Pandan.” Dan benar saja, begitu kami sampai di Belitung Timur, saat itu suhu mencapai 32 derajat Celcius. Kalau di Jakarta dan sekitarnya suhu segitu sudah biasa, malah bisa lebih dari itu sih sebenarnya. Tapi di Belitung Timur saat itu, panas nya itu beda sama di Jakarta. Lebih terik menyengat gitu. Walaupun katanya cuma 32 derajat, tapi rasanya seperti 37 atau 38 derajat!

Dermaga Laskar Pelangi
Dermaga Laskar Pelangi

Destinasi pertama kami di Belitung Timur ini ialah Replika SD Muhammadiyah atau Replika Sekolah Laskar Pelangi yang berada di desa Gantong. Tapi karena sedang ramai, jadi Pak Wawan menyarankan kami untuk foto-foto dulu saja di Dermaga nya Laskar Pelangi yang terletak di seberang Replika Sekolah Laskar Pelangi. Waktu menunjukan pk11.20 saat kami sampai di Dermaga Laskar Pelangi, atau yang disebut juga sebagai Dermaga Apung. Sekitar 20 menitan kami foto-foto dan video disini. Lalu perjalanan dilanjutkan ke Replika Sekolah Laskar Pelangi.

Saat mau masuk ke Replika Sekolah ini, kami harus membayar Rp3.000 per orang. Replika Sekolah itu terlihat tua dan seperti nya gampang bobrok. Walaupun itu hanya replika, tapi saya yakin masih banyak sekolah di Indonesia yang kondisi nya seperti itu juga. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya yang sekolah di sekolah seperti itu. Di depan replika sekolah itu terdapat Bendera Merah Putih. Saya jadi kembali teringat masa-masa ketika upacara bendera di sekolah.

Replika Sekolah Laskar Pelangi
Back to School
Upacara Bendera 😀

Ketika kami sudah mau balik ke mobil, sebelum parkiran itu ada semacam toko souvenir. Toko itu menjual pernak-pernik yang bertema Laskar Pelangi. Bahkan ada background buat foto yang bertuliskan Laskar Pelangi, dan ada juga yang background nya ceritanya lagi Sunset gitu. Disana juga tersedia ukulele, topi khas pedesaan, dan sepeda tua yang bisa digunakan untuk atribut foto nya. Tapi ukulele nya emang ada yang main-in juga kok, bukan cuma buat atribut foto aja 😀 Terus mereka juga puterin lagu nya Laskar Pelangi. “Laskar Pelangiiii~ Takkan terikat waktu”

Perjalanan dilanjutkan lagi ke Museum Kata Andrea Hirata. Kami diwajibkan membayar Rp50.000 per orang untuk memasuki Museum ini. Museum ini ialah museum yang didirikan oleh Andrea Hirata pada tahun 2010. Sesuai dengan novel nya Andrea Hirata, Laskar Pelangi, museum ini warna-warni seperti layaknya sebuah Pelangi. Di Museum ini lah kita bisa melihat karya-karya nya Andrea Hirata. Ini merupakan museum kata yang pertama di Indonesia, dan mungkin, satu-satunya di negeri ini. Kalau di US sih museum kata seperti ini sudah ada lebih dari 100 museum. Andrea Hirata terinspirasi dari museum kata di US sana. Oleh karena itu lah ia mendirikan Museum Kata nya sendiri di kampung halamannya di Gantong, Belitung.

Museum Kata Andrea Hirata
Warna-warni Museum Kata Andrea Hirata
True colors are beautiful like a Rainbow…

Disini juga ada Warung Kopi gitu, namanya “Kopi Kuli”. Karena kami tidak suka kopi, jadi hanya foto-foto saja disini. Eh saat sedang duduk santai-santai disini, tiba-tiba ada seorang pengantin wanita melewati kami. Loh kok bisa? Sepertinya sedang ada foto pre-wedding disini. Dilihat dari muka nya sih, ini orang luar negeri. Entah darimana. Terus ada beberapa orang Korea juga disini. Tapi tidak sempat kenalan sih. Intinya, banyak orang luar negeri yang berwisata ke Museum Kata Andrea Hirata ini 🙂

Kopi Kuli

Setelah ruangan Warung Kopi ini, ada ruangan nya Lintang, Ikal, dan Mahar. Sesuai namanya, ruang ini berisi gambar dan cuplikan adegan dalam film laskar pelangi. Beberapa diantaranya menggambarkan karakter dan keunikan masing-masing tokoh. Disini kita juga dapat melihat buku-buku Andrea Hirata yang sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing.

Laskar Pelangi International Editions
Anak-anak Laskar Pelangi

Laskar Pelangi adalah salah satu novel dan film Indonesia favorit saya. Walaupun sudah agak lupa-lupa dikit bagaimana ceritanya, tapi inti ceritanya masih nempel di hati. Really really thanks to Andrea Hirata! Seneng banget bisa mengunjungi Museum Kata nya Andrea Hirata ini. Untuk pertama kali nya saya suka dengan yang namanya museum. Museum Kata itu sangat unik ternyata. Design interior nya unik juga. Banyak spot-spot yang Instagrammable gitu. Setiap sudut di museum ini pokoknya bagusss dan saya suka sekali! Ada banyak barang-barang kuno juga. Apalagi karena saya penggemar nya Andrea Hirata, jadi saat saya kesana saya terpesona banget sama museum ini. Rasanya waktu 30 menit disana itu tidak cukup bagi saya. Mungkin harusnya sekitar 2 jam disana, tapi apa daya saat itu waktu sudah menunjukan pk13.00, kami masih harus ke Kampoeng Ahok lagi. Baru setelah itu makan siang.

I really love every corner of this museum!
“Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu” ~Andrea Hirata
Instagrammable Spot! 😀
Ruangan utama dari Museum Kata
Another Instagrammable Spot
It’s all about words
I’m a Travel Writer, and I’m proud of it! 🙂

Perjalanan dilanjutkan lagi ke Kampoeng Ahok. Dari Museum Kata ke Kampoeng Ahok ini sangat dekat, paling cuma sekitar 4-5 menit naik mobil. Namun yang kami datangi pertama bukanlah Kampoeng Ahoknya, melainkan rumah keluarga Ahok nya sendiri yang berada persis di seberang Kampoeng Ahok. Ibunda Ahok (Buniarti Ningsih) beserta Adiknya Ahok (Basuri Tjahaja Purnama), masih tinggal di rumah itu, tapi sayangnya saat kami kesana beliau sedang tidak di tempat. Jadi kami hanya foto-foto saja di depan rumahnya itu, dan sempat mengintip rumahnya juga :)) Rumah Ahok ini sangat besar, ada 2 tingkat gitu. Lalu di halaman depan rumah nya ada banyak karangan bunga yang mengucapkan “Terima Kasih Ko Ahok & Mas Djarot”. Ini adalah ungkapan rasa simpati rakyat Belitong kepada Ahok. Terenyuh rasanya melihat karangan bunga itu, karena kami di Belitung saat itu tidak lama setelah Ahok dipenjara. Ada perasaan yang bergejolak saat itu. Kalau saja saya waktu itu berkesempatan bertemu dengan ibunda nya Ahok, saya ingin sekali memeluk Beliau. Saya turut sedih dan tidak rela Ahok diperlakukan seperti itu. Bagi saya, Ahok adalah simbol keberanian dan kejujuran bangsa ini.

Rumah Keluarga Ahok di Gantong, Belitung Timur
Karangan Bunga dan Poster untuk Ahok
Di dalam Rumah Keluarga Ahok

Disamping rumah nya Ahok ini ada Galeri Daun Simpor, atau galeri batik yang menjual souvenir khas Belitung. Katanya sih itu adalah bisnis keluarganya Ahok. Setelah puas foto-foto, kami menyebrang jalan ke Kampoeng Ahok. Kampoeng Ahok ini sebenarnya ialah rumah panggung khas Belitong gitu. Katanya sih disini bisa menemukan barang-barang Ahok jaman dulu. Tapi karena saya tidak masuk ke dalam rumah panggung itu, jadi saya juga sebetulnya tidak tahu persis apa yang ada di dalam rumah panggung itu. Saat itu kami hanya foto-foto saja di depan rumah panggung ini, karena kami juga sudah kelaparan. Waktu sudah menunjukkan pk13.20 saat kami meninggalkan Kampoeng Ahok.

Galeri Daun Simpor
Terima Kasih, Pak Ahok! Salam 2 jari dari Kampoeng Ahok

Kami pun langsung menuju Rumah Makan Fega yang sudah di reserve sebelumnya oleh supir kami, Pak Wawan. Dan akhirnya sekitar pk13.50 kami sampai di RM Fega. Rumah Makan Fega ini sangat terkenal di Belitung Timur, dengan seafood sebagai spesialis nya. Waktu itu kami makannya sudah dipesenin oleh Pak Wawan. 1 paket nya per orang Rp70.000.

Setelah makan kenyang di RM Fega, kami melanjutkan perjalanan ke Vihara Dewi Kwan Im yang berada di desa Burung Mandi. Dalam perjalanan itu, ada kejadian seru. Si Pak Wawan tiba-tiba bilang, “Eh ada kura-kura tuh dipinggir jalan, kita selamatin dia dulu yuk.” Kami pun akhirnya putar balik lagi untuk menyelamatkan si kura-kura, dengan cara membawa si kura-kura ke tempat yang ada air nya. Kura-kura itu berukuran cukup besar. Ada 1 teman kami yang geli sama kura-kura gitu, jadi di mobil itu heboh banget :)) Akhirnya setelah kami menemukan tempat yang ada air nya, kami pun melepaskan si kura-kura disana. Jadi kata pak Wawan, di Belitung itu kita bisa ketemu sama banyak binatang di pinggir jalan. Disana ada buaya juga karena ada rawa-rawa gitu, lalu ada juga ular berbisa. Serem juga ya..

Kura-kura yang kami temukan di pinggir jalan

Oke lanjut ke vihara Dewi Kwan Im. Vihara ini ialah vihara yang tertua dan terbesar di Belitung. Sebenarnya vihara ini lebih mirip kelenteng sih. Untuk memasuki vihara ini, kita harus menaiki anak tangga yang berjumlah sekitar 86 buah. Ada 3 tempat sembahyang disini. Lalu, jika kita naik tangga sampai atas, kita akan menemukan sebuah patung Dewi Kwan Im yang besar dan megah. Saya pun menyempatkan diri untuk berdoa di vihara ini. Akhirnya sekitar pk17.15 kami pun meninggalkan Vihara ini dan segera menuju hotel kami di Tanjung Pandan. Untung kami tidak terlalu malam meninggalkan Belitung Timur nya, kalau tidak kami akan melewati jalanan yang tidak ada lampu jalannya di Belitung Timur!

Dewi Kwan Im
Sembahyang di Vihara Dewi Kwan Im

Kalau saya bisa kasih kesimpulan, Belitung Timur itu ialah kampung nya Laskar Pelangi dan kampung nya Ahok. Jadi disini kamu mengunjungi tempat wisata yang mengandung banyak makna dan sejarah 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here