Beijing – Tianjin

Dari Beijing kami naik kereta jenis D (Dongche 动车) ke Tianjin. Perjalanan memakan waktu sekitar 30-40 menit. Kami sampai di Tianjin Station sekitar pk07.30 waktu setempat. Ketika kami keluar dari Tianjin Station, kami langsung disambut oleh pemandangan indah Haihe River. Haihe River adalah ibu sungai dari Tianjin.

Setelah foto-foto di depan sungai Haihe River, kami jalan melewati jembatan Jie Fang Bridge. Jie Fang Bridge adalah jembatan diatas sungai Haihe River yang menghubungkan kota Tianjin dengan stasiun Tianjin dan berumur sudah lebih dari 80 tahun. Lalu kami melihat ada jam besar yang letaknya persis di depan jembatan. Jam besar yang bernama Century Clock ini mempunyai tinggi 40m dan berat 170 ton. Jam ini dibuat sebagai penanda awal industri modern China di Tianjin.

Tianjin Station
Haihe River
Jie Fang Bridge
Century Clock

Dalam perjalanan kami di Tianjin ini kami menggunakan taxi sebagai alat transportasi utama. Sebenarnya ada subway dan bus juga disini tapi karena tidak mau repot, jadinya naik taxi saja. Tujuan wisata pertama kami ialah mengunjungi Ancient Culture Street Tianjin 天津古文化街. Ini adalah tempat untuk merasakan suasana Chinese kuno jaman dulu, dan juga merupakan pusat perbelanjaan di Tianjin. Kalau kamu mau belanja souvenir khas China di Tianjin, kamu harus datang kesini. Persis di depan Ancient Culture Street ada gereja Katolik. Waktu itu di gereja ini ada yang menikah gitu. Kami sih cuma liatin saja dari kejauhan 😛

Catholic Church
Ancient Culture Street Tianjin
Ancient Culture Street

Di Ancient Culture Street ini saya hanya beli Postcards khas Tianjin dan beberapa jajanan gitu. Saya tidak begitu banyak belanja disini. Kebanyakan sih foto-foto doang karena gedung-gedung dan jalanannya itu Chinese banget. Jadi bagus buat foto-foto. Kami pun menghabiskan waktu 2,5 jam disini.

Tianjin’s Street

Karena waktu menunjukkan pk11.00 kami pun langsung mencari restaurant yang menjual Goubuli 狗不理 (steamed stuffed bun) atau dalam bahasa Indonesia nya ialah roti kukus yang diisi berbagai macam varian. Goubuli ini merupakan makanan khas Tianjin. Akhirnya kami pun menemukan restaurant bernama Goubuli 狗不理, kalau tidak salah ini juga berkat bantuan si supir taxi.

Goubuli 狗不理

Goubuli ini rasanya aneh sih menurut saya. Saya juga tidak tahu persis apa yang ada di dalam nya. Karena saya hanya bisa makan ayam dan seafood, daripada makan daging yang aneh-aneh, saya pun tidak berani makan Goubuli. Setelah itu saya pergi ke mall yang saya juga tidak ingat dimana, dan akhirnya makan kenyang disana.

Perjalanan dilanjutkan ke Five Great Avenues 五大道. Five Great Avenues yang merupakan kawasan di Tianjin ini mempunyai 5 parallel streets dari timur ke barat. Kelima jalanan ini namanya diambil dari 5 kota di China bagian selatan, yaitu Chongqing, Changde, Dali, Munan, dan Machang. Kawasan ini sudah diakui sebagai “World Building Exposition”. Disini ada lebih dari 230 gedung dari berbagai macam arsitektur Britain, France, Italy, Germany, and Spain.

Waktu itu saat awal bulan Oktober, hujan mengguyur kota Tianjin. Untungnya saya sudah persiapan bawa payung. Tapi tetap saja sepatu saya yang modelnya “suede” ini kebasahan 🙁 Setelah keluar dari Five Great Avenues, kami melanjutkan perjalanan ke Tianjin Eye. Walaupun masih gerimis, tapi demi foto di depan Tianjin Eye, kami rela basah-basahan sedikit. Karena Tianjin Eye ini adalah landmark kota Tianjin. Jadi dalam 1 hari perjalanan kami ke Tianjin ini kami harus foto di Tianjin Eye.

Karena waktu yang tidak memungkinkan bagi kami untuk naik Kincir Angin raksasa ini, kami melanjutkan perjalanan ke Italian Style Street. Kami sampai di Italian Style Street sekitar pk15.30 waktu setempat. Italian Style Street ini adalah jalanan khas Italia dimana kamu bisa melihat patung-patung, pertokoan, restaurant, dan bar khas Italia. Kalau di Five Great Avenues itu kita bisa merasakan Eropa secara general, nah kalau di Italian Style Street ini khusus Italia saja. Saya pribadi sih suka banget sama Italian Style Street ini. Benar-benar berasa lagi di Italia! 😀

Akhirnya waktu sudah menunjukkan pk19.00. Itu artinya kami harus balik lagi ke Beijing. Dalam perjalanan kami ke Tianjin Station, kami melihat Tianjin Eye pada malam hari. Sungguh indah! Rasanya ingin sekali naik Kincir Angin raksasa itu untuk menikmati pemandangan kota Tianjin 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here