KYOTO

Dari Gion ke Menbaka Fire Ramen

Karena di hari ketiga ini kami rencananya mau ke Arashiyama Bamboo Grove, dari airbnb di Gion kami menuju stasiun Kyoto sambil membawa koper. Koper kami titipin dulu di office airbnb kami yang berada di dekat Kyoto Station. Sesampainya di stasiun Kyoto, waktu sudah menunjukkan pk10.25. Karena sudah agak siang, kami pikir lebih baik makan siang dulu saja sebelum ke Arashiyama. Kami pun cek list makanan yang ingin kami coba di Kyoto.

Kyoto Station

Ada 2 pilihan, yaitu Menbaka Fire Ramen atau Kyoto Ramen Koji (Masutani). Kalau Menbaka Fire Ramen, kami harus naik kereta lagi. Kalau Kyoto Ramen Koji lokasinya memang berada di Kyoto Station nya. Tadinya kami mau makan di Kyoto Ramen Koji saja. Karena selain dekat, katanya enak juga. Tapi karena itu hari terakhir kami di Kyoto dan merasa Menbaka Fire Ramen wajib dicoba ketika di Kyoto, jadi kami memilih makan di Menbaka Fire Ramen saja.

Tapi sebelum ke Menbaka Fire Ramen, karena kami melihat Kyoto Station ini arsitektur nya bagus, jadi kami pun keliling Station ini dulu. Sekitar pk11.40 waktu setempat, kami naik kereta dari Kyoto Station. Nah, pas kami mau naik kereta itu penuh banget sampai kami yang berlima ini jadi terpisah gerbong nya. Kalau di Google Maps saya itu ada 3 stop lagi, sementara di Google Maps teman saya malah 2 stop lagi. Teman saya yang terpisah itu berpegang pada 2 stop. Alhasil mereka salah turun stasiun. Kami turun di stop yang benar, yaitu yang ketiga.

Ketika menunggu teman2 yang lain~

Modem wifi juga saya yang pegang. Mereka tidak punya koneksi internet untuk bisa menghubungi kami. Mungkin ada wifi di stasiun keretanya. Tapi mereka tetap tidak bisa dihubungi. Kami pun hanya menunggu mereka di pemberhentian stasiun yang ketiga itu. Sekitar 20-30 menit kemudian, akhirnya mereka muncul juga. Kami pun kemudian jalan kaki bersama-sama menuju Menbaka Fire Ramen.

Menbaka Fire Ramen

Menbaka Fire Ramen

Menbaka Fire Ramen ini makanan hits yang wajib dicoba di Kyoto, Jepang. Fire Ramen ini sebenarnya adalah ramen yang isinya Chasiu (Pork) dan Green Onion. Namun ada pertunjukkan api nya saja ketika menyajikan ramen ini. Bagi yang tidak bisa makan pork, mereka bisa tidak menambahkan pork ke dalam ramen, tapi harganya sama saja.

Mereka tidak hanya menjual ramen, tapi juga pengalaman. Pengalaman makan ramen dengan pertunjukkan menuangkan minyak panas ke dalam ramen sehingga menimbulkan api besar. Restoran ini juga sudah sangat memahami para turis yang ingin mendokumentasikan pengalaman unik tersebut. Mereka memasang tongsis yang digantung dengan tali di dapur nya mereka, lalu HP kita ditaruh di tongsis itu untuk merekam video ketika mereka menyajikan fire ramen ini.

Ini “dapur” nya mereka. Ada tongsis yang digantung dengan tali.

Begitu kami datang, untungnya kami sudah bisa langsung duduk. Soalnya yang kami baca itu antrinya panjang. Lalu kami pun diberikan celemek. Kami semua memesan fire ramen seharga 1,350 yen (atau sekitar Rp178.200). Di Menbaka Fire Ramen ini ada rules yang harus ditaati. Karena mereka tahu kami dari Indonesia, mereka sudah menyiapkan rules dalam bahasa Indonesia. Sugoiii! Luar biasa sekali pelayanan di restoran ini. Staff nya juga ramah-ramah banget. Mereka kebanyakan masih mahasiswa yang part time disana.

Rules nya yang terpenting itu ialah kita tidak boleh foto atau video ketika “pertunjukkan api” hendak dimulai. HP atau kamera pun tidak boleh diletakkan diatas meja, harus ditas atau di kolong meja yang sudah disediakan. Lagipula, dokumentasi video sedang direkam oleh HP salah satu teman saya yang digantung di tongsis mereka itu. Ketika pertunjukkan api dimulai untuk ramen kita, badan kita itu harus agak ke belakang agar tidak terkena panas api tersebut.

Fire Ramen!

Setelah pertunjukkan di masing-masing ramen kami selesai, HP teman saya dikembalikan. Lalu kami sudah boleh makan fire ramen ini. Namun mangkuk nya tidak boleh dipegang terlebih dahulu karena masih panas. Ternyata fire ramen ini menyajikan green onion yang banyak banget. Porsi nya juga besar, cukup untuk makan 2 orang. Tapi waktu itu kami memesan sendiri-sendiri. Kalau dari segi rasa, sebenarnya biasa saja ya. Cuma mereka menawarkan pengalaman dan sensasi yang unik, pelayanannya juga bagus, staff nya juga ramah banget.

Dari Menbaka Fire Ramen ke Arashiyama Bamboo Grove

Sekitar pk13.40 kami pun melanjutkan perjalanan ke Arashiyama Bamboo Grove. Kami dikasih tau oleh staff Menbaka itu bagaimana cara menuju Arashiyama, yaitu dengan naik bus nomor 63 atau 93 atau 66. Naik bus sekali saja sudah langsung sampai di Arashiyama Bamboo Forest, dengan durasi sekitar 40 menitan. Ternyata bus stop di Arashiyama ini ada beberapa. Kalau mau yang bamboo grove, turunnya yang di bamboo grove.

Arashiyama Bamboo Grove

Arashiyama Bamboo Grove. I love green! πŸ˜€

Arashiyama Bamboo Grove ini adalah hutan bambu yang merupakan tempat wisata wajib dikunjungi ketika di Kyoto. Begitu sampai di Arashiyama Bamboo Grove sekitar pk14.30, kami langsung disambut dengan hujan. Hujannya juga cukup deras, namun tak menyurutkan niat turis yang datang kesini. Ramai sekali hutan bambu yang satu ini.

Karena itulah saya malah jadi malas foto-foto disini. Padahal sudah datang jauh-jauh, tapi malah jadi hanya menikmati pemandangan saja. Pemandangan nya juga sebenarnya itu-itu saja, hanya bambu. Disini saya juga melihat ada yang memakai baju tradisional Jepang, Yukata. Tadinya saya juga mau memakai Yukata dan foto-foto disini. Tapi mengingat cuaca yang tak bersahabat, sepertinya akan jauh lebih ribet jika memakai Yukata.

Banyak becak disini. Kekar dan masih muda itu tukang becak nya LOL

Kami pun akhirnya jalan-jalan di dalam Bamboo Forest ini sekitar 1 jam. Setelah itu kami menuju stasiun kereta Arashiyama untuk kembali lagi ke Kyoto station. Sebelum ke stasiun, kami sempat jajan dulu di dekat pintu masuk Arashiyama Bamboo Grove. Kami membeli es krim dan Yakitori (sate ayam).

Es Krim dan Yakitori. Ini enak banget es krimnya, jadi atasnya itu rasa Tofu, bawahnya rasa Sea Salt πŸ˜€

Sesampainya di Kyoto Station, kami juga disambut oleh hujan. Kami mengambil koper dulu di office airbnb kami, lalu balik lagi ke Kyoto Station karena selanjutnya perjalanan kami ialah ke Osaka.

OSAKA

Dotonbori & Shinsaibashi

Begitu sampai di Osaka, kami langsung menuju airbnb kami. Katanya airbnb kami itu dekat dengan JR-Namba Station. Karena lokasi nya yang kurang jelas ada dimana, dan kami juga bingung naik kereta nya, akhirnya kami menghabiskan waktu lama banget untuk sampai di penginapan. Sempat salah naik kereta dan nyasar juga.

Kami pun akhirnya menemukan airbnb kami yang ternyata lokasinya itu agak sulit dicapai. Badan rasanya sudah rontok karena banyak menghabiskan waktu untuk nyasar, sambil bawa koper dan sambil bawa payung karena hujan. Tapi karena sudah janjian dengan temannya teman saya yang asli orang Jepang di Dotonbori, setelah menaruh koper di airbnb, kami langsung berangkat lagi ke Dotonbori.

Waktu menunjukkan pk20.30 ketika kami sampai di Dotonbori. Kami pun akhirnya bertemu dengan temannya teman saya yang orang Jepang itu. Ada 3 orang totalnya, cewe semua. Mereka hanya bisa bahasa Korea dan Jepang. Bahasa Inggrisnya sangat terbatas, bahkan ada yang tidak bisa sama sekali. Teman saya ini bisa bahasa Korea, mereka kenal di Korea.

Dotonbori. Welcome to Osaka!

Lalu kami berdelapan pun mencari makan di Dotonbori. Dotonbori itu area yang paling ngehits dan terkenal di Osaka. Disini banyak kuliner enak, dan merupakan pusat belanja juga. Saya juga sebelumnya sudah list makanan yang mau dicoba di Osaka. Kebanyakan itu ada di Dotonbori. Ada satu restoran di list kami, ternyata itu penuh dan antri panjang. Kami pun mencari restoran lainnya. Eh ternyata restoran lainnya hanya menjual babi dan sapi saja. Sedangkan saya tidak makan babi ataupun sapi. Akhirnya daripada kelaparan, kami makan yang ada saja, yang tidak terlalu ramai dan ada ayam nya. Kami akhirnya makan Yoshinoya.

The most famous Glico in Osaka

Bagi saya sih, Yoshinoya nya masih lebih enak yang di Indo. Mungkin memang sudah lidah orang Indonesia ya. COCO Curry saja menurut saya lebih enak yang di Indo daripada di Jepang. Setelah itu kami pun jalan-jalan di Dotonbori ini. Ada satu spot yang paling terkenal di Dotonbori yaitu Glico. Biasanya orang foto-foto di depan Glico ini, dengan menirukan gaya si Glico yaitu kedua tangan diangkat dan satu kaki diangkat. Tapi karena masih hujan, kami hanya foto seadanya, tidak pakai gaya-gaya gitu.

Shinsaibashi

Dari Dotonbori jika kita menyusuri sungai nya sudah langsung sampai di Shinsaibashi. Jadi Shinsaibashi ini memang lokasinya persis di sebelah Dotonbori. Shinsaibashi itu pusat perbelanjaan di Osaka. Tapi karena sudah malam, banyak toko yang sudah tutup. Sekitar pk11.30 kami pun pulang ke airbnb kami lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here