Pagi itu pk08.00 waktu setempat kami berangkat dari hotel menuju desa Kincir Angin Zaanse Schans. Karena kami tidak dapat makan pagi dari hotel, kami pun mencari makan di Zaandam.

Zaandam station

Dari Golden Tulip Amsterdam West Hotel seperti biasanya kami naik tram dulu 1x ke stasiun kereta Amsterdam Sloterdjik. Setelah itu kami naik kereta Sprinter ke Zaandam. Karena kami sudah mempunyai Amsterdam & Region Travel Ticket, kami tidak perlu lagi membeli tiket kereta. Perjalanan dari Sloterdjik ke Zaandam membutuhkan waktu hanya 6 menit saja. Begitu sampai di Zaandam, kami langsung disambut oleh angin yang kenceng banget dan udara yang dingin. Kami pun segera mencari cafe untuk makan pagi. Akhirnya kami memilih sebuah cafe yang bernama Wonder’s To Go.

Setelah mengganjal perut, kami pun menikmati keindahan bangunan unik yang ada di Zaandam ini. Persis di depan cafe, ada satu hotel yang bangunannya unik sekali, seperti rumah yang bertumpuk-tumpuk. Pastikan kamu foto-foto di depan hotel ini ya, karena hotel ini merupakan salah satu hotel yang paling unik di dunia. Di Zaandam memang ada begitu banyak bangunan unik yang Instagrammable banget. Sayangnya karena anginnya yang super kenceng dan dingin banget, saya pun cuma jepret jepret asal doang dan hasil foto nya kurang maksimal 🙁

Unique buildings in Zaandam
Inntel Hotel, one of the world’s most unusual and unique hotel

Tidak mau berlama-lama disini, kami pun segera masuk ke dalam stasiun untuk melanjutkan perjalanan kami ke Zaanse Schans, yang merupakan desa kincir angin di sebelah utara nya Zaandam. Zaanse Schans adalah gambaran kehidupan Belanda pada abad 18 dan 19. Perumahan hingga kincir anginnya masih lestari hingga saat ini.

Zaanse Schans

Dari Zaandam ke Zaanse Schans kami naik Sprinter lagi dan memakan waktu sekitar 5-10 menit. Sesampainya di Zaanse Schans kami jalan menyusuri perumahan, pabrik coklat, dan kami juga menikmati awal musim gugur yang dedaunannya sudah mulai berwarna kuning. Cuaca saat itu juga bagus, walau anginnya kencang dan awannya mendung, namun ada matahari nya.

Otw Zaanse Schans

Setelah melewati sebuah jembatan, kami pun tiba di kawasan wisata Zaanse Schans nya. Disini kita bisa mengunjungi pabrik keju, coklat, sepatu clogs khas Belanda, toko souvenirs, bahkan ada juga toko yang menjual barang-barang antik dan unik. Zaanse Schans ini merupakan desa kecil nan indah. Saya suka menjelajahi tiap sudut di Zaanse Schans. Tidak terasa sudah 2 jam kami keliling desa Zaanse Schans ini. Karena waktu yang sudah menunjukkan sekitar pk12.00 waktu setempat, kami pun segera balik ke Amsterdam lagi untuk makan siang.

Zaanse Schans
In front of the museum of Dutch watch and Clook in Zaanse Schans
Random pic I took when in Zaanse Schans. According to a Dutch friend, “VREDE” in Dutch means “Peace”
Antique things I found in Zaanse Schans
Traditional Dutch shoes / clogs
Some pics of mine and my family in Zaanse Schans 🙂

Dari Zaanse Schans sebetulnya ada bus yang langsung ke Volendam yaitu bus no. 891. Tapi bus ini hanya beroperasi dari tanggal 16 Juli sampai 28 Agustus jam 10am – 3pm, setiap 20 menit sekali. Info lengkapnya bisa dicek disini. Karena kami kesananya bulan Oktober, jadi tidak ada transportasi langsung dari Zaanse Schans ke Volendam. Oleh karena itu kami harus ke Amsterdam dulu baru melanjutkan perjalanan ke Volendam. Kami pun naik Sprinter lagi, dan memakan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di Amsterdam. Siang itu kami mencari makan siang di area Amsterdam’s China Town. Teman kami yang orang Belanda menyarankan kami makan di restaurant Thailand favorit dia, yang bernama Thaise Snack Bar Bird. Namun karena tempatnya kecil, kami tidak dapat tempat duduk disini. Untungnya diseberang jalan terdapat sister restaurant nya yang bernama Bird Thais Restaurant. Bedanya di restaurant ini tempatnya lebih besar dan harganya juga lebih mahal, tapi katanya makanannya sama-sama enak.

Amsterdam’s China Town

Saya pun seperti biasanya memesan Pad Thai, dan ini adalah Pad Thai terenak yang pernah saya makan. Porsi nya besar sekali, ini harusnya untuk porsi 2 orang, tapi karena enak banget saya hampir bisa menghabiskannya. Saya rasa porsi segitu dengan rasa yang luar biasa enak sangat pantas juga dengan harganya, yaitu 15 Euro (atau sekitar Rp240.000).

Thaise Snackbar Bird
Bird Thais Restaurant

Setelah puas makan siang di Restaurant Thailand tersebut, kami pun segera menuju stasiun Amsterdam Centraal dengan berjalan kaki. Sesampainya di Amsterdam Centraal, kami mencari halte bus yang ke Volendam. Sekitar pk15.00 waktu setempat, kami naik bus nomor 316 dari Amsterdam Centraal ke Volendam. Perjalanan memakan waktu sekitar 40 menit untuk sampai di Volendam.

Amsterdam Centraal
Bus no. 316 from Amsterdam Centraal to Volendam

Berkunjung ke Belanda tidak lengkap rasanya jika tidak ke Volendam ini. Volendam merupakan desa nelayan kuno yang terletak di kotamadya Edam-Volendam, di provinsi North Holland, Belanda, 20km ke utara dari Amsterdam. Disini kita bisa menikmati indahnya pelabuhan, mengunjungi pabrik dan toko keju, belanja souvenirs, dan yang paling menariknya dan tidak boleh dilewatkan ialah berfoto memakai pakaian tradisional Belanda.

The beauty of Volendam

Sesampainya di Volendam, ada begitu banyak studio foto yang menawarkan jasa foto pakaian tradisional Belanda ini. Dari hasil research saya, photo studio yang recommended dan yang terkenal di kalangan orang Indonesia itu ialah Foto De Boer. Harganya ialah 42 Euro untuk 7 orang. Kalau mau tambah USB (jadi ada softcopy nya juga) itu tambah 5 Euro. Karena menurut kami softcopy itu sangat penting, kami pun bersedia untuk nambah 5 Euro lagi, jadi totalnya 47 Euro untuk 7 orang.

Foto de Boer
Pricelist Foto de Boer (October 2017)

Studio foto ini ada 4 lantai, dimana lantai ketiga nya ialah tempat untuk memilih kostum pria, dan lantai keempat nya ialah tempat untuk memilih kostum wanita sekaligus tempat foto studio nya juga. Ketika naik tangga, di dinding nya itu di pajang hasil foto yang sudah pernah foto di studio tersebut. Yang paling menarik ialah foto Ibu Megawati dan Pak Gusdur ada juga disitu! Mereka memakai baju tradisional Belanda dan berfoto di Foto De Boer ini.

Foto Ibu Megawati dan Pak Gusdur beserta foto-foto lainnya yang dipajang di Foto de Boer. Dan bahkan disini ada tulisan dalam bahasa Indonesia, “Hati-Hati Melangkah”
Tempat Foto Studio de Boer

Pakaian tradisional Belanda ini sangat unik. Kami semua sekeluarga ketawa ngakak melihat satu sama lain memakai pakaian tradisional Belanda ini. Teman kami yang asli Belanda itu juga baru pertama kali nya memakai pakaian tradisional negara nya sendiri. Ia juga merasa agak aneh memakai pakaian tradisional tersebut. Karena ini foto keluarga, teman kami yang orang Belanda tersebut telah kami anggap sebagai anggota keluarga kami juga. What a precious and heart-warming moment! We’re such a happy family 😀

“Happy Family will change the world” 🙂

Foto studio di De Boer ini memang tidak mengecewakan. Pelayannya ramah, bahkan ia tak segan-segan mengijinkan kami untuk berfoto memakai kamera kami sendiri di luar foto yang telah ditetapkan, tapi ambil fotonya tidak boleh di area tempat foto nya ya. Hasil fotonya juga bagus. Ketika foto juga, mereka yang mengarahkan gayanya. Lalu menyuruh kami untuk bilang “Cheers!”

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menyusuri Volendam. Kami pun berhenti di salah satu pabrik keju di Volendam, yang bernama Cheese Factory Volendam. Di setiap toko keju pasti ada tester nya, dan saya langsung jatuh cinta sama keju yang ada di toko ini. Enaaaakkk banget! Kalau keju Belanda aku suka yang Smoked Cow Cheese nya. Aku juga beli Crispy Gouda Cheese nya disana, semacam biskuit keju Gouda gitu. Super Lekker!

Strolling around Volendam
Souvenir shops in Volendam
And here it is! We found “Cheese Factory Volendam”, a recommended one in Volendam 😉
This is Marken Express. So, from Volendam you can take ferry directly to Marken
Typical houses in the Netherlands.. So pretty! And oh, they also put a Buddha statue in front of their house. This is so interesting 😀
Love the typical houses in this flat country

Setelah puas belanja Keju, kami pun melanjutkan perjalanan ke desa Edam. Dari Volendam ke Edam itu, kami naik bus 316 lagi dan memakan waktu sekitar 25 menit. Akhirnya sekitar pk17.00 kami pun sampai di desa Edam, yang merupakan desa penghasil keju Edam. Pada Abad Pertengahan, pasar keju di Edam merupakan pusat kegiatan masyarakat, dimana para petani membawa keju hasil buatan mereka untuk ditimbang, dijual dan kemudian diekspor ke seluruh dunia. Karena itulah, kami pun mengunjungi toko keju yang bernama Wijn&Kass disini.

Karena sudah sore, kami harus segera pulang ke Amsterdam. Walaupun di Edam ini kami tidak sempat explore banyak, tapi saya mendapat kesan dari desa ini, yaitu tenang dan sejuk. Dari Edam, kami naik Bus no.314 ke Amsterdam. Perjalanan memakan waktu sekitar 35-45 menit.

Edam, a small and beautiful village in the Netherlands
with the famous Edam Cheese Carriers Statue

Sesampainya di Amsterdam, karena kami masih belum puas belanja keju, kami pun mencari toko keju lagi. Akhirnya kami menemukan toko keju bernama Amsterdam Cheese Deli, dan disinilah saya menemukan Truffle Cheese! Saya suka sekali dengan Truffle, begitu saya melihat ada Truffle Cheese, saya langsung excited untuk membelinya.

Enjoying Amsterdam city
Jadi ceritanya, saya lagi mau foto bus di Amsterdam, eh tau2nya ada bule yang mau ikut di foto juga #bulenarsis, lalu papa saya juga jadi ikutan foto bareng si bule. LOL
Amsterdam Cheese Deli

Setelah itu, kami makan malam di sebuah restoran Indonesia yang bernama Aneka Rasa. Karena saya masih berasa kenyang banget gara-gara Pad Thai siang itu, saya pun tidak mau makan, hanya minum saja disini. Tapi keluarga saya sih makan, dan mereka bilang masakannya sih biasa saja, jauh lebih enak di Indonesia deh.

Akhirnya sekitar pk22.00 waktu setempat kami pulang ke hotel. Dan itulah pengalaman singkat nan padat saya selama di Belanda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here