View this post on Instagram

Rasanya seperti sebuah mimpi untuk bisa jalan-jalan ke Swiss bersama kedua orangtua. . Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya bisa jalan-jalan ke Swiss bersama orangtua. Mengingat usia mereka yang sudah tidak muda lagi, rasanya mustahil untuk bisa pergi kesana. . Nah ketika kesempatan itu datang, saya jadi langsung bersemangat sekali😆 Saya pikir ini kesempatan bagus, mumpung mereka masih bisa jalan juga. Saya ingin mengajak orangtua melihat indahnya dunia, melihat salju untuk pertama kali nya, dan melihat pegunungan Alpen yang saljunya itu abadi❄️😍 Untungnya dokter juga kooperatif, mengijinkan orangtua saya naik ke atas pegunungan Alpen. . Oleh karena itulah, saya dan keluarga jadi #BeraniJelajahi Swiss🇨🇭🇨🇭🇨🇭 Berani untuk naik ke atas salah satu pegunungan Alpen, Jungfraujoch (3,466m), yang katanya sih disini suhu nya sering sampai minus . Orangtua saya tadinya takut kedinginan, eh sampe sana cuacanya bagus sekali! Terang benderang gitu☀️ Bahkan saya merasa kepanasan memakai jaket, dan kami pun harus memakai Sunglasses karena terlalu silau😎 . Anyway, yuk ikutan juga Photo Competition dari @hisgoindonesia. Hadiahnya 2 tiket pesawat ke Thailand, 1 tiket masuk Universal Studios Singapore, dan goodies menarik dari hisgo Indonesia. @s.choadinata @mellzhang @nina.san28 #jeanetravelstory #jeaneineurope #jungfraujoch #switzerland

A post shared by Jeane | Travel Blogger 🇮🇩 (@jeanerooseline) on

Liburan ke Eropa itu sebenarnya sama sekali tidak ada di benak pikiran keluarga kami dari dulu. Semua bermula dari sepupu saya yang pergi ke Perancis untuk beberapa waktu. Kami pun mulai ada keinginan untuk menengok dia selagi masih ada di Perancis. Selain itu, mumpung kedua orangtua saya juga masih bisa jalan, saya pikir ini kesempatan bagus untuk membawa mereka jalan-jalan ke Eropa. Banyak dari kita yang bermimpi untuk mengajak kedua orang tua jalan-jalan ke luar negeri, terutama ke negara Barat. Tetapi pada kenyataannya, merencanakan liburan ke Eropa bersama orangtua itu ada banyak tantangannya. Intinya satu, Harus extra sabar!

Nyokap saya itu terbiasa jalan-jalan bersama tour&travel. Jadi semuanya udah diurus sama mereka, kita ga usah pusing lagi. Sementara saya dan bokap itu sama-sama tidak suka pakai tour&travel, karena tentu bayarnya lebih mahal, suka diburu-buru juga, suka dibawa ke tempat-tempat yang kita tidak suka (pabrik sutra, dsb) dan sederet alasan lainnya. Tapi akhirnya si nyokap nyerah juga, dan membiarkan saya yang mengurus semuanya. Mulai dari membuat itinerary, budgeting, booking hotel, booking tiket pesawat, booking kereta, bahkan urus visa pun dilakukan sendiri. Pusing? Sudah pasti. Apalagi harus menghadapi rempong nya orang tua. Tapi menjadi kebanggaan tersendiri juga sih bagi saya, karena sudah bisa mengajak orangtua dan keluarga ke Eropa.

Merencanakan liburan bersama keluarga itu sangat jauh berbeda dengan merencanakan liburan bersama teman. Ada begitu banyak hal yang harus diperhatikan ketika merencanakan liburan ke Eropa bersama orangtua. Misalnya, “Disana nanti naik apa kalau tidak ikut tour? nginepnya dimana? makannya gimana? takut ga cocok nih makanannya” dan sederet tetek bengek lainnya. Kebanyakan sih ini pertanyaan yang diajukan oleh si nyokap kepada saya.

1. Tour

“Bisa ga ya, kalau ikut tour lokal dari Indo, tapi dengan catatan jemput sepupu dulu di tempatnya itu?” Saya sudah tanya ke tour&travel disini, dan mereka semuanya menjawab tentu tidak bisa. Kalau mau ikut tour dari sini, ya harus ikutin jadwal tour nya mereka, tidak bisa pakai acara jemput sodara dulu disana.

“Atau kita pakai jasa tour/guide lokal disana saja?” Ada begitu banyak jasa tour/guide, bisa diitung per hari atau per beberapa jam. Saya sudah tanya ke guide lokal lewat website withlocals.com dan showaround.com. Kebetulan untuk di tanggal yang kami mau, mereka tidak available. Baguslah, karena ternyata si bokap sama sekali tidak mau mengeluarkan uang untuk jasa guide seperti ini. Kalau si nyokap sih emang maunya. FYI, kalau kalian mau sewa jasa guide lokal lewat withlocals.com sih menurut saya guide nya terpercaya ya. Karena guide nya akan diverifikasi dulu oleh tim Withlocals nya kalau mereka mau jadi guide di withlocals.com. Nah, kalau yang showaround.com itu sepertinya kurang terpercaya ya. Karena tidak ada verifikasi oleh tim showaround.com nya, jadi semua orang yang daftar di website itu bisa jadi guide. Oh ya, selain kedua website itu, bisa dicek juga toursbylocals.com, viator.com, getyourguide.com.

Karena kedua opsi diatas tidak ada yang sesuai, akhirnya saya lah yang menjadi “tour guide” selama di Eropa sana. Saya juga yang membuat rincian jadwal perjalanan, budgeting, dan tetek bengek lainnya. Jadi bisa lebih hemat, secara Eropa kan mahal banget ya.

2. Transportasi selama di Eropa

“Sewa mobil dan supir di Eropa? Atau sewa mobil nya saja di Eropa? Atau transportasi umum?” Perlu kita ketahui, sewa mobil dan supir di Eropa itu sangat sangat jarang. Di Eropa mereka terbiasa menggunakan transportasi umum. Tidak seperti di Indonesia, bisnis sewa mobil dan supir ini sangat menjamur. Teman saya yang asli Belanda sampai bingung gitu, ketika saya menanyakan hal ini. Kenapa harus sewa mobil dan supir, kan transportasi umum di Eropa sudah nyaman dan enak. Well, mungkin ini kebiasaan orang Indonesia ya, suka naik mobil, plus ada supir nya juga. Eh tapi saya nemu juga sih, jasa mobil dan supir di Eropa dengan supir nya yang berbahasa Indonesia di jelajaheropa.com. Tapi kami kurang cocok sih dengan penawaran harga yang diberikan.

Opsi selanjutnya ialah sewa mobil nya saja di Eropa. Nah, kalau sewa mobil di Eropa sih banyak pilihannya. Bisa dicek di website sixt.com, autoeurope.com, hertz.com, europcar.com, dll. Waktu itu sih saya nemu harga yang paling oke di sixt.com. Berikut detail mobilnya: Ford Galaxy or SEAT ALHAMBRA or similar, include Unlimited Km, Loss Damage Waiver, Third Party Insurance, Registration Fee, Premium Location Fee, GPS Guaranteed, Additional Driver, Diesel preferred, Roadside protection, Tire- and glass coverage). Itu mobilnya berkapasitas 7 orang. Harga untuk di Switzerland 3 hari ialah 550,91 CHF (atau sekitar Rp7.500.000). Dan menurut si bokap itu harganya masih mahal, lagian saya juga tidak diijinin untuk menyetir mobil di Eropa. Padahal saya sudah cari info mengenai International SIM, lalu cara menyetir disana itu seperti apa, dsb. Sayangnya si bokap sih khawatir takut kenapa-napa kalau menyewa mobil disana.

Opsi terakhir ialah naik transportasi umum. Ya, akhirnya inilah yang dipilih oleh kami. Meskipun awalnya si nyokap khawatir bakal capek naik turun transportasi umum, tapi karena tidak ada pilihan lain, mau tidak mau deh. Saya sih siasatin di hotel nya saja. Cari hotel yang dekat dengan stasiun kereta/bus dan letaknya di pusat kota. Jadi gampang kemana-mana.

3. Penginapan

“Airbnb atau Hotel?” itulah pertanyaan yang saya ajukan ke nyokap saat mengurus penginapan. Awalnya sih saya menyarankan memakai Airbnb karena disana kebanyakan orang memakai Airbnb, lagian biasanya lebih murah pakai Airbnb. Tapi si nyokap awalnya ga ngerti. Dia mau cari aman saja, yaitu dengan menginap di hotel. Eh gara-gara dia denger dari temen dan sodara lain yang bilang kalau di Eropa mending sewa apartment, jadinya saya disuruh cari apartment saja di Eropa.

Karena saya akan jalan-jalan ke 3 kota di Eropa (Paris, Amsterdam, Interlaken), jadi saya cari apartment di 3 kota itu lewat Airbnb.com. Ternyata apartment Airbnb di pusat kota itu harganya mirip sama hotel di pusat kota. Bahkan ada juga yang lebih mahal. Tapi kalau apartment enaknya kan ada dapur nya, bisa masak. Setelah diubek-ubek, ternyata ga ada satu pun yang nyantol di hati si nyokap. Tidak ada lift nya lah, Kamar mandi nya cuma 1 lah, ada juga yang cuma 1,5. Soalnya kami itu total orangnya kan ada 7 orang, jadi pasti kurang kalau kamar mandi nya cuma 1 atau 1,5. Ada juga yang kamar mandi nya banyak, tapi share sama orang lain. Si nyokap pun ga mau, dia maunya yang private bathroom. Nah, kalau di Paris ada nih yang private bathroom (1 kamar ada shower nya, total 3 kamar), lokasinya pas banget di pusat kota, review nya juga bagus banget, walaupun harganya mirip sama hotel, eh tapi pas di tanggal yang kami mau itu sudah full book. Apartment yang dimiliki Simon ini emang banyak banget sih orang yang mau booking, yang kasih review nya juga udah banyak sekitar 140 orang lebih. Wajar kalau sudah full book.

Akhirnya ujung-ujungnya balik lagi ke pilihan hotel. Saat saya mencari hotel di Eropa, saya sih lebih sering memakai Booking.com. Karena disana tersedia banyak filter, mulai dari filter lokasi, fasilitas hotel, fasilitas kamar, review, harga, bahkan ada juga free cancellation nya. Filter-filter yang disediakan oleh Booking.com ini sangat memudahkan saya dalam melakukan pencarian hotel. Akhirnya setelah ubek-ubek hotel selama beberapa bulan (agak lebay sih, tapi kenyataannya begitu!), kami akhirnya menemukan hotel yang cocok. Kalau di Paris itu kami akan menginap di Hotel de Suez. Kalau di Amsterdam, kami akan menginap di Golden Tulip Amsterdam West. Kalau di Interlaken, kami akan menginap di Hotel Crystal. Kesemua hotel itu mempunyai lift, lokasinya dekat dengan kereta/bus, reviewnya bagus, harganya lumayan oke (daripada hotel lainnya), private bathroom, dan bersih.

Kami memakai website Booking.com itu hanya untuk mencari hotelnya saja. Kalau booking nya sih langsung dari website hotel nya masing-masing, karena harganya itu lebih murah kalau booking langsung. Tapi kalau hotel lain sih, saya cek ada juga yang harganya sama dengan yang di Booking.com.

4. Makanan

Lidah orang Indonesia itu berbeda dengan lidah orang barat. Walaupun awalnya si nyokap agak khawatir takut tidak cocok sama makanan disana, tapi saya coba menenangkannya dengan berkata “Tenang aja, nanti aku cariin restorannya ya. Yang review nya bagus, dan yang murah.”

Saya mencari rekomendasi restaurant itu lewat Tripadvisor.com. Di tripadvisor.com itu tersedia banyak sekali filter, mulai dari filter berdasarkan lokasi, harga, batasan menu makanan (vegetarian, vegan), dll. Di keluarga kami itu ada yang vegetarian, jadi saya harus cari restoran yang menyediakan makanan untuk vegetarian nya juga. Tapi tentu yang ada dagingnya juga, review nya bagus dan harganya terjangkau. Akhirnya saya menemukan beberapa pilihan restoran untuk di 3 kota (Paris, Amsterdam, Interlaken) tersebut. Saya juga sudah kepo-in ada menu apa saja di restoran itu (caranya: liat langsung ke website restorannya). Jadi ketauan deh harganya berapa, ada menu apa saja, foto makanannya seperti apa. Lalu saya kasih liat ke keluarga, cocok atau tidak kalau makan disini. Saya sih catat saja semua list nya dulu ke dalam “Europe’s Travel Guide” versi Jeane.

Saya liat sih kira-kira sekali makan di restaurant kelas biasa di Eropa itu sekitar 10-15 Euro (atau sekitar Rp156.000 – Rp234.000, kurs Euro Rp15.600). Untuk menghemat sih minum airnya di tap water aja, jangan beli di restaurant nya.

Restoran yang paling cocok dengan lidah orang Indonesia sih menurut saya sepertinya di Amsterdam doang ya. Saya nemu ada banyak restoran Indonesia disana. Tunggu saja review restorannya ketika saya sudah pulang dari sana ya 😉

5. Transportasi ke kota/negara lain

Di Eropa itu transportasi antar kota/negara bisa ditempuh dengan kereta, bus, atau pesawat. Kalau secara logika, harga kereta itu lebih murah dari pesawat. Nah, tapi kalau di Eropa itu terkadang harga kereta justru tidak beda jauh dengan harga pesawat. Dengan harga yang kurang lebih mirip, saya pun akhirnya lebih memilih naik pesawat ketimbang naik kereta. Biar lebih cepat juga sampai di tujuannya.

Tapi untuk antar kota di Perancis sih, saya memilih untuk naik kereta cepat TGV. Kalau antar negara saja yang naik pesawat. Alasannya karena saya juga ingin merasakan bagaimana naik kereta cepat di Eropa sana, yang dioperasikan oleh TGV 😀

Awalnya saya kira-kira harga sekali jalan pesawat itu ialah Rp500.000/orang. Tapi ternyata karena beli tiket nya menunggu visa nya jadi dulu, jadi sudah semakin mahal tiket nya 🙁 Kalau tiket kereta, harusnya bisa dapat Rp300.000/orang. Waktu itu karena sudah mepet, jadi per orangnya sekitar Rp570.000. Lalu untuk tiket pesawat malah ada yang sampai Rp2.000.000/orang. Saya pun tidak kehilangan akal. Saya cari penerbangan lain yang terdekat atau cari kota yang terdekat dari situ. Setelah diotak-atik, saya pun akhirnya mendapat harga Rp1.000.000/orang dari Perancis ke Amsterdam. Kalau dari Amsterdam-Swiss harganya Rp600.000/orang.

Waktu itu saya cari rute nya lewat goeuro.com. Enaknya pakai website itu ialah kita bisa bandingin harga bus, kereta, dan pesawat. Lalu ada fitur “penerbangan terdekat” nya juga. Oh ya, momondo.com juga oke untuk compare harga tiket pesawat. Walaupun saya cari nya lewat website pihak ketiga seperti itu, tapi saya booking nya sih langsung di website kereta atau pesawat nya. Kalau kereta di Perancis, saya booking nya di voyages-sncf.com. Kalau pesawat saya pakai pesawat budget airlines, yaitu EasyJet. EasyJet ini kalau di Indonesia semacam Air Asia. Kalau mau pakai bagasi harus nambah biaya lagi, kalau mau makan juga harus nambah biaya lagi, pokoknya semuanya harus nambah biaya lagi.

Kesemua hal diatas itulah yang menjadi concern saya ketika merencanakan liburan ke Eropa bersama orangtua. Karena saya anggap ini adalah hadiah yang saya bisa berikan untuk keluarga, jadi saya berusaha yang terbaik yang bisa saya lakukan. Saya cari informasi sebanyak-banyaknya mengenai Eropa, sampai-sampai saya buat sendiri “Europe’s Travel Guide” versi nya Jeane. Itinerary nya juga harus yang sesuai untuk keluarga. Hotel nya juga yang nyaman, enak, terjangkau, dan sesuai dengan kriteria si nyokap. Makanannya juga yang sekiranya cocok di lidah dan cocok di kantong 🙂

4 COMMENTS

  1. Hi sis, saya banyak terbantu dari tips2 di blog nya, thank you banget.
    Yang saya belum nemu itu, selama di europe pakai internetnya apa yah? sewa wifi atau sim card?

    Terima kasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here