Banyak orang yang demi mendapat visa gratis ke Jepang langsung ingin membuat e-Paspor. Karena bagi pemilik e-paspor itu bisa mendapat visa waiver atau visa gratis ke Jepang selama 15 hari. Tapi sebetulnya jika Passport kamu belum mau expired itu kamu tidak bisa membuat e-Paspor. Biasanya paspor sudah bisa diganti jika memasuki tenggang waktu 6 bulan sebelum tanggal berlaku paspor seperti yang tercantum. Karena paspor saya expired di awal tahun 2021, jadi kalau mau bikin e-Paspor tidak bisa dari sekarang. Jadi saya harus menunggu tahun depan (2020) kalau mau bikin e-Paspor.

Akhirnya mau tidak mau, saya apply visa Jepang dengan memakai Passport yang biasa. Kebetulan per tanggal 1 April 2019 lalu, harga visa single entry Jepang naik dari harga Rp360.000 jadi Rp380.000. Waktu itu saya apply di tanggal 16 Mei 2019. Pengajuan visa hanya bisa dilakukan di agent yang sudah ditunjuk oleh Kedutaan Jepang, yaitu VFS atau Japan Visa Application Center (JVAC) yang ada di Lotte Shopping Avenue lantai 4 (samping studio XXI).

Seperti visa lainnya, pengajuan visa hanya bisa dilakukan 90 hari sebelum keberangkatan. Ada pula dokumen-dokumen yang harus disiapkan sebelum pengajuan, seperti yang dilansir di website resmi nya Kedutaan Jepang:

1. Passport
Passport cukup bawa yang asli saja. Tidak perlu fotokopi nya.

2. Formulir Permohonan Visa
Formulir nya bisa di download disini. Setelah itu isi form nya, jangan lupa ttd juga.

3. Foto terbaru ukuran 4.5cm x 4.5cm
Foto diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram. Foto ini ditempel di Formulir Permohonan Visa.

4. Fotokopi KTP

5. Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (hanya bila masih mahasiswa)
Karena saya sudah bukan mahasiswa, jadi tidak perlu menyertakan ini. Surat keterangan kerja pun bahkan tidak perlu.

6. Bukti pemesanan tiket
Ini maksudnya tiket pesawat PP nya ya. Karena teman saya ada yang salah kira, dia pikir invoice nya. Akhirnya dia harus ke tempat print untuk print tiket pesawat, lalu balik lagi ke VFS untuk menyerahkan dokumen tersebut.

7. Jadwal Perjalanan

8. Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dsb. (Bila pemohon lebih dari satu)
Karena saya apply nya sendiri juga, jadi ini tidak perlu dibawa.

9. Rekening Koran 3 bulan terakhir
Rekening koran bisa didapat dengan mengunjungi bank masing-masing. Untuk minimum saldo ke Jepang itu tidak disebutkan secara resmi oleh kedutaan Jepang nya. Tapi kalau saya sih biasanya memakai perhitungan seperti ini: Rp1.000.000 dikali jumlah hari di Jepang. Karena saya di Jepang nya 7 hari, jadi minimum saldo nya ialah Rp7.000.000 di rekening.

Katanya semua dokumen ini harus disusun secara berurutan sebelum diserahkan di loket. Setelah semua dokumen ini saya siapkan dan susun, saya membuat janji temu dengan VFS nya. Sebetulnya bisa juga datang langsung kesana. Teman saya juga ada yang langsung datang dan pengalaman mereka sih tidak terlalu lama juga nunggu nya. Saat saya kesana pun, sepertinya memang kalau janji temu dan datang langsung tidak beda jauh, karena sama-sama bisa langsung masuk.

Waktu itu tanggal 16 Mei 2019 saya kesana dengan membawa semua dokumen. Begitu masuk, saya mendapat nomor antrian. Awalnya deg-degan karena foto yang saya bawa itu hasil editan. Saya tidak lama pun dipanggil untuk menyerahkan dokumen. Petugas nya ada sedikit nanya-nanya sih, mau ngapain di Jepang, berapa lama, dan lain sebagainya. Nah, begitu dia cek semuanya, saya kira bakal lolos untuk fotonya juga.

Eh ternyata petugasnya bilang foto saya ini kalau di fotokopi hasilnya buram, jadi harus ganti lagi fotonya. Akhirnya saya harus foto langsung disana dengan membayar Rp45,000. Saya kira bakal di foto dengan memakai DSLR atau kamera, eh ternyata foto nya cuma memakai HP dan hasilnya tidak diedit lagi. Jadi terlihat buram dan hitam juga sebetulnya. Beda banget dengan foto untuk visa Schengen di TLSContact. Lalu karena saya bilang fotonya buram, jadi si petugas juga agak ragu dan mengambil foto yang pertama saya bawa dan foto yang diambil di VFS.

Petugasnya bilang prosesnya 5 hari kerja. Jadi setelah 5 hari kerja itu saya sudah bisa ambil visa Jepang saya. Setelah foto dan dokumen selesai, selanjutnya saya menunggu antrian untuk bayar visa. Nunggu antrian nya ini memakai nomor yang sama dengan yang sebelumnya. Saya pikir bakal cepat karena nomor antrian saya duluan dibanding yang lain yang baru datang. Ternyata sepertinya nomor antrian untuk pembayaran itu dihitung dari setelah dokumen selesai diterima. Soalnya saya nunggu sampai 30-40 menit gitu sampai nomor saya dipanggil untuk melakukan pembayaran.

Total pembayaran saya waktu itu ialah sebesar Rp545,000 dengan rincian sbb:
Visa Fee: 380,000 ; VFS Service Fee: 165,000. Setelah membayar saya dikasih bukti pembayarannya yang harus saya bawa nanti saat pengambilan visa 5 hari kerja ke depan.

Email yang menerangkan bahwa dokumen sudah diserahkan ke Kedutaan Jepang

Tepat 5 hari kerja berikutnya, yaitu tanggal 22 Mei 2019, saya dikirimin email oleh VFS Japan nya bahwa Passport dengan stempel visa nya sudah bisa diambil. Saya pun langsung segera kesana hari itu juga dengan membawa bukti pembayarannya. Saat pengambilan passport, tidak ada satupun orang yang mengantri. Jadi saya langsung ke loket pengambilan passport, lalu setelah kasih bukti pembayaran ke petugas, saya langsung mendapat Passport saya. Begitu saya cek, Visa Jepang sudah ditempel di Passport saya. Ternyata mereka memakai foto saya yang dicetak di VFS nya.

Email yang menerangkan bahwa Passport sudah bisa diambil

Saya tidak menyangka proses visa Jepang ini sangat tepat waktu. Pertama dibilang 5 hari kerja, ternyata benar-benar pas 5 hari kerja itu selesai. Bahkan mereka juga kirim saya email. Kalau mereka tidak kirim email pun, sebenernya saya pasti akan langsung kesana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here