Welcome to Kansai! Begitu sampai, kece banget ini ada Booth nya Nintendo 😀

Dari Osaka ke Kyoto

JR Haruka Airport Express from Kansai International Airport to Kyoto Station

Di hari pertama ini kami sampai di Kansai International Airport (Osaka) sekitar pk16.10. Lalu dari Kansai International Airport kami langsung naik kereta JR Haruka Airport Express ke Kyoto. Perjalanan memakan waktu sekitar 75 menit. Sesampainya di Kyoto station itu sudah sekitar pk18.35. Ternyata kami disambut oleh hujan begitu sampai di Kyoto. Hujannya tidak terlalu deras, namun tetap membuat kami repot karena sambil gerek-gerek koper menuju lokasi meeting point dengan pihak airbnb kami.

Di dalam kereta JR Haruka Airport Express

Check-in Airbnb di Kyoto

Airbnb di Kyoto

Airbnb kami berada di daerah Gion. Jadi dari pihak airbnb nya memang disediakan shuttle bus dari Kyoto Station ke airbnb kami di Gion. Nah lokasi meeting point shuttle bus nya ini terletak sekitar 10 menit dari Kyoto Station. Kami pun akhirnya naik shuttle bus ini pk19.00 dan sampai di airbnb kami sekitar pk19.10. Perjalanannya cuma sekitar 10 menit saja.

Fasilitas di dalam Airbnb: Kamar mandi, Toilet, Laundry, Kulkas, Oven, dll

Airbnb ini ada 2 lantai. Untungnya kamar kami di lantai pertama, jadi tidak usah cape-cape naik tangga. Setelah itu kami mandi, beberes, istirahat, dan akhirnya baru keluar dari airbnb itu pk20.30. Waktu itu kami langsung mencari makan malam. Karena kami sudah list makanan apa saja yang mau kami cicipi di Kyoto, kami pun mencari restoran yang ada di list kami yang lokasinya terdekat dari posisi kami saat itu.

Makan Ichiran Ramen

The most famous ramen: Ichiran Ramen

Kebetulan ada Ichiran Ramen yang lokasinya tidak jauh dari airbnb kami. Ichiran Ramen ini memang sangat terkenal di Jepang. Tapi sayangnya ini tidak halal. Walaupun saya bukan muslim, namun saya juga tidak makan Babi. Makanan di Jepang memang kebanyakan sih non-halal ya. Kalau ada daging Babi nya, biasanya saya kasih saja buat teman saya.

Mesin untuk pesan makanan dan Order Sheet untuk mengisi preferensi

Sesampainya di Ichiran Ramen pk20.37, kami awalnya bingung karena begitu masuk ada sebuah mesin untuk pesan makanan. Ya, jadi kalau di Ichiran Ramen ini order makanannya itu self-service. Untungnya disini ada Ramen nya saja, tidak pake daging. Saya pun pilih yang itu, dan ada nambah Half-Boiled Egg. Harga ramennya sendiri 890 yen, dan telur nya itu 130 yen. Jadi total makan malam saya itu 1020 yen (atau sekitar Rp134.640). Kalau teman-teman saya yang lain pada pesan Set Menu Ichiran 5. Set menu ini sudah komplit dengan daging dan half-boiled egg nya juga. Harganya 1490 yen (atau sekitar Rp196,680).

Selanjutnya kami harus mengisi Order Sheet yang sudah disediakan di depan juga. Jadi di kertas Order Sheet itu kita harus menulis preferensi ramen kita, level kaldu nya mau strong atau ngga, level spicy nya berapa, bawang putih nya mau berapa, dan lain sebagainya. Sambil mengisi, sambil mengantri. Karena antriannya ini cukup panjang. Belum lagi mengantri tempat duduknya. Jadi disini tempat duduknya itu tidak terlalu banyak.

Suka banget sama meja makan dan cara penyajian di Ichiran Ramen ini

Akhirnya sekitar pk21.19 kami baru masuk ke sebuah ruangan yang mejanya ada 5, dan masing-masing itu ada sekatnya. Karena kami berlima, jadi ini memang pas banget untuk kami. Uniknya disini adalah penyajian makanannya. Jadi begitu kami duduk, di depan kami itu ada tirai yang menghubungkan kami dengan pelayan yang menyajikan makanan kami. Jika tirai itu dibuka, si pelayan yang tidak kelihatan wajahnya itu akan menyajikan makanan untuk kami.

Awalnya dia kasih sebuah telur yang harus dikupas sendiri kulitnya, dengan bowl dan sumpitnya. Air putih sudah tersedia di meja masing-masing. Kita tinggal mengisinya saja di gelas, dan itu gratis. Restoran di Jepang biasanya memang kasih air putih secara gratis. Setelah itu, tidak lama kemudian si pelayan buka tirai nya lagi dan ia pun menyajikan ramen untuk saya.

Setelah menyajikan ramen, ia mengucapkan sesuatu dalam bahasa Jepang, yang kemungkinan adalah “Selamat makan” gitu kali ya. Yang paling saya kaget lagi ialah si pelayan kemudian berbalik ke sebelah kiri dan membungkuk sekitar 90 derajat, sambil mengucapkan sesuatu juga yang saya tidak tahu artinya apa. Bagi saya ini adalah pengalaman unik dan menarik yang saya temui di Jepang.

Ichiran Ramen! Enakkkkk bangetttt~ 😀

Ramen ini ternyata porsi nya besar sekali. Setelah dicicipi, ramen ini memang sangat enak! Walau saya hanya makan ramen dengan 1 butir telur setengah matang dan green onion, ini enak banget. Wajar kalau harganya mahal. Enak dan porsinya juga banyak. Kuah nya pas banget rasa nya, level pedes nya juga pas dengan saya, pokoknya enak deh. Very recommended 😉

Me & friends

Ketika kami semua sudah selesai makan, awalnya kami mau jalan-jalan malam di sekitaran situ. Eh tapi sayangnya hujan turun lagi dan deres banget juga. Kami coba menunggu beberapa saat sampai hujannya reda, tapi hujan malah tambah deras. Lalu kami pikir daripada menunggu hujan reda yang tidak tahu sampai kapan ini, kami coba jalan saja. Kami pun menemukan sebuah supermarket, dan akhirnya ngadem disana beberapa lama.

Makan di Chao Chao Gyoza

Chao Chao Gyoza

Setelah itu kami keluar lagi mencari restoran. Di list makanan kami itu ada beberapa restoran yang dekat dari posisi kami saat itu. Namun kebanyakan sudah pada tutup kalau malam hari begitu. Untungnya ada satu yang masih buka, yaitu Chao Chao Gyoza. Sebenarnya kami masih kenyang karena makan Ichiran Ramen tadi, cuma kami pikir Gyoza kan bentuknya kecil, jadi masih bisa lah. 😛

Kebetulan lokasi Chao Chao Gyoza ini memang searah dengan jalan pulang kami ke airbnb. Sesampainya di Chao Chao Gyoza sekitar pk22.40. Ternyata tempat nya kecil banget, dan disini juga ada banyak bule nya. Gyoza nya juga ternyata menurut saya biasa saja, tidak terlalu yang enak banget. Kalau yang Shrimp Gyoza harganya 480 yen (atau sekitar Rp63.360), isinya ada 5.

Red Light District Kyoto: Kiyamachi

Sekitar pk23.30 kami pun pulang ke airbnb dengan berjalan kaki. Ternyata kami melewati sebuah jalanan red light district nya di Kyoto, di daerah Kiyamachi. Ya, Gion memang red light district di Kyoto. Tapi airbnb kami sih masih harus masuk lagi ke gang-gang kecil gitu. Ternyata begini toh night life di Kyoto. Walau hujan, tapi tetap ramai sekali. Banyak bar dan pub dipinggir jalan. Ada sebuah sungai juga yang melintang di sepanjang jalan ini, yaitu Kamo River. Sekitar pk00.30 kami akhirnya sampai juga di airbnb kami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here