Saya pertama kali mendengar Gili Trawangan dari teman bule saya beberapa tahun yang lalu. Waktu itu dia cerita Pulau Gili (Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air) seperti Hidden Paradise. Bersih dan indah sekali, berasa pulau milik sendiri gitu katanya. Bahkan katanya lebih bagus dari Bali dan Lombok. Sejak saat itu, saya pun menjadikan 3 Pulau Gili itu sebagai Travel Bucket Lists.

Saya dengar dari teman kalau Gili Trawangan itu terkenal dengan party nya. Jadi suasana nya lebih ramai gitu dari pulau Gili lainnya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menjelajah pulau Gili Trawangan selama 2 hari 2 malam beberapa waktu lalu. Nah, tapi ternyata ekspektasi saya yang tinggi terhadap Pulau Gili berubah menjadi sebuah kekecewaan. Gili Trawangan saat ini kondisinya sudah kotor dan tidak seindah yang saya bayangkan. Masih jauh lebih bagus pantai-pantai di Lombok.

Hari 1 di Gili Trawangan

Gili Trawangan

Waktu itu dari Bali, kami naik fast boat ke Gili Trawangan. Kebetulan kami kenalan sama 2 orang bule dari Spain. Kami pun bertukar nomor dan jalan bareng saat di Gili nya. Sesampainya di Gili, kami menelepon pihak guesthouse yang sudah kami booking sebelumnya untuk bertanya bagaimana cara ke guesthouse. Karena jaraknya yang cukup jauh dari pelabuhan, ia menyarankan naik cidomo (baca: delman) saja.

Moda transportasi di Gili: Cidomo & Sepeda

Jadi di Gili ini ada 3 macam transportasi: Cidomo, Sepeda, dan Jalan Kaki. Karena kami tidak bisa naik sepeda, maka harus naik cidomo. Di depan pelabuhan sudah ada banyak cidomo yang standby. Saya kaget setengah mati ketika si mas-mas Cidomo nya bilang, harga untuk ke guesthouse kami itu sebesar Rp200.000 sekali jalan. Kami pun nego harga sekitar setengah jam, tapi cuma bisa di nego sampai Rp150.000 aja sekali jalan. Wagelaseh, ini namanya “local tourist trap”.

Sesampainya di penginapan, kami bertemu dengan pemilik guesthouse nya yang ternyata orang bule. Saya baru tau pas telp orangnya tadi :)) Sepertinya saya mengalami banyak culture shock disini (padahal masih di negara sendiri LOL). Setelah istirahat, kami jalan kaki mengelilingi pulau menuju ke “The Exile”. Karena katanya “The Exile” ini tempat yang oke buat menikmati sunset di Gili. Kami juga sudah janjian dengan si bule untuk bertemu di “The Exile”.

On the way to “The Exile”

Ternyata si bule malah menikmati sunset nya di “Ombak Sunset Gili Trawangan”. Jadi ada 2 tempat populer untuk menikmati indahnya sunset di Gili Trawangan: “The Exile” dan “Ombak Sunset”. Namun berdasarkan staff guesthouse kami yang orang bule juga dan sudah tinggal lama di Gili, dia lebih prefer “The Exile”. Maka dari itu, kami mengikuti saran dari dia.

Waiting for sunset
Enjoying the sunset in Gili Trawangan
Sunset in Gili Trawangan

Sunset di Gili Trawangan saat itu memang indah. Ada ayunan juga di dekat laut yang terkenal di Instagram gitu. Bagusnya foto di ayunan saat sunset sih, tapi karena rame banget saya akhirnya kebagian foto di ayunan sesaat setelah sunset. Di “The Exile” juga seperti ada semacam live performance dari warga lokalnya.

Setelah sunset, kami bertemu dengan si bule untuk ke night market. Karena katanya night market itu terkenal di Gili Trawangan. Mereka naik sepeda, tapi sayangnya karena bukan sepeda untuk 2 orang, jadi saya dan teman saya itu naik cidomo lagi. Karena dari “The Exile” ke night market nya itu jauh, dari ujung ke ujung gitu, jadi mau tidak mau harus naik cidomo. Apalagi di Gili Trawangan itu kalau sudah malam tidak ada lampu jalan, jadi benar-benar gelap.

Night market yang awalnya kami pikir itu bagus dan meriah, eh ternyata biasa aja sih menurut saya. Kami jadinya malah makan di restoran Pizza persis sebelah night market. Pizza nya lumayan enak, tapi karena masih kenyang, kami pun bungkus pizza nya untuk dibawa ke penginapan.

Bule kenalan kami sebetulnya mengajak untuk party, tapi karena saya dan teman saya bukan anak party, kami pun menolaknya. Untungnya mereka mengerti dan setelah itu, kami ke sebuah bar outdoor untuk menikmati suasana Gili saat malam hari. Ada live music nya juga waktu itu. Karena waktu sudah menunjukkan pk23.00, kami pun pulang ke guesthouse dengan menggunakan cidomo lagi, dan membayar Rp100.000.

Hari 2 di Gili Trawangan

Hari kedua kami di Gili Trawangan, kami habiskan untuk snorkeling. Jadi di hari sebelumnya, kami memang sudah booking untuk snorkeling di 3 Gili: Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Kami membayar Rp100.000 per orang untuk snorkeling trip ini dengan memakai public boat. Jadi 1 kapal bisa muat banyak orang.

Kami berangkat dari penginapan pk09.30, sampai dekat pelabuhan sekitar pk10.00. Sekitar pk10.40 kami sudah mulai masuk ke dalam kapal. Kami pun mulai snorkeling di Gili Trawangan. Kalau disini, kami tidak boleh jauh-jauh dari kapal.

Setelah itu, kami lanjut snorkeling di Gili Meno. Kalau di Gili Meno, kami harus snorkeling / berenang mengikuti arahan dari pemandu nya. Sementara kapalnya menunggu di belakang. Itu lumayan sih cape banget, saya dan teman saya akhirnya cuma setengah jalan doang, tapi kalau si bule teman saya itu tetap lanjut snorkeling mengikuti si pemandu.

Pemberhentian terakhir ialah di Gili Air. Kalau saya sih memilih untuk tidak snorkeling disini, karena waktu itu langit sudah gelap sekali (mau turun hujan) dan takut arus laut nya kencang. Kami pun selesai snorkeling trip ini sekitar jam 2 siang. Secara keseluruhan, snorkeling di 3 Gili ini biasa aja dan bahkan tidak terlalu memuaskan bagi saya. Air lautnya sudah kotor dan tidak jernih lagi. 

Snorkeling in Gili

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here